Selasa, 31 Agustus 2010

MEMBERDAYAKAN POTENSI DIRI

Manusia adalah makhluk tiga dimensi dengan tiga kemampuan. Pertama kesadaran akan dirinya sendiri dan dunia. Kedua, kemampuan untuk memilih. Ketiga, kemampuan untuk berkarya. (Ali Syari’ati 1933-1977)

Manusia modern tentunya mempunyai banyak keinginan. Kita tau bahwa hidup memang memerlukan, life skill. Dan life skill, tidak mungkin datang dengan sendirinya. Tapi, memerlukan usaha yang maksimal, perlu digali potensi diri, dan dikembangkan dengan cara banyak belajar, kuncinya adalah jangan pernah merasa cukup dengan hasil yang ada teruslah berusaha. Berbuatlah sebanyak mungkin, lakukan yang bisa dilakukan, carilah sesuatu hal yang baru, yang bisa membawa banyak manfaat. Tanpa kemampuan yang dimiliki oleh diri, tentunya kita akan tertinggal, dan jalan ditempat yang akhirnya menyesali diri sendiri. Salah besar kalau kita sampai memvonis diri gagal dan bodoh. Kita tidak mengharapkan seperti itu menimpa kita, yang kita harapkan hidup ini dinamis penuh warna, dan banyak perubahan pada diri.

Manusia yang kreatif, tentu akan selalu mencoba hal-hal yang baru ,beinovasi. Menyukai tantangan, tidak ada khahawatiran pada diri. Melakukan tentu lebih baik daripada menonton dan mengomentari. Socrates berkata, ”Cobalah dulu, baru cerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirlah dulu, baru berkata. Dengarlah dulu, baru beri penilaian. Bekerjalah dulu, baru berharap”. Indah sekali kata bijak ini, tidak menutup kemungkinan orang bisa terinspirasi dan berbuat lebih semangat lagi.

Walau sesulit dan sepahit apapun harus tetap punya harapan dan selalu berpikiran positif. Jangan mengalah dan menyerah, lawan dan berusaha untuk menang, Kita perlu ”memotivasi diri sendiri ” agar berdaya dan tegar dalam menghadapi hari esok. Kalau perlu bikin dan tulis suatu catatan diri yang menekankan ketangguhan mental, semisal: “Saya harus bisa, melakukan itu yang menjadi taget dan prioritas, tidak ada yang tidak bisa jika Tuhan menghendaki, Pasti saya bisa”. Baca berulangkali kalimat demi kalimat, pahami dan hayati maknanya, katakan pada diri bahwa kita mampu, untuk melakukannya.Itulah optimisme. Dengan begitu kita akan merasakan bahwah alam sadar kita merespons dalam tindakan yang nyata.

Berfikiran kreatif hanya berkembang pada masyarakat yang terbuka, toleran terhadap ide-ide “gila” dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengembangkan kemampuan dirinya.
Orang yang kreatif dan dinamis biasanya mereka selalu berpikiran bagaimana dirinya maju terdepan, visioner dan bermanfaat buat orang banyak. Sungguh mulia orang yang selalu berpikiran kedepan untuk kemaslahatan atau kebaikan umat manusia, selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Tentunya ini perlu diapresiasi. Dan setiap agama apapun memandangnya sebagai tindakan yang terpuji, berakhlak dan karakter manusia yang santun dan bersahabat.

Dalam buku Psikologi Komunikasi (Jalaluddin Rahmat 2009: 77) disebutkan, secara umum menurut Colemen dan Hammen orang-orang kreatif ditandai:
1. Kemampuan kognitif. Termasuk disini kemampuan diatas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan yang berlainan, dan pleksibelitas kognitif.
2. Sikap terbuka. Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimulasi internal dan eksternal, ia memiliki minat yang beragam, dan luas.
3. Sikap bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang “digiring” , ia ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat dengan konvesi-konvensi sosial, mungkin inilah sebabnya orang-orang kreatif sering dianggap “nyentrik” atau gila. (Catatan, asgaris 2010: 21)

Jika kita berpikir, bahwa didunia ini tidak ada yang mustahil. Semuanya serba mungkin Rumus berpikirnya: “Tuhan ada dan Dia berkehendak”. Jadi, siapa manusianya yang bisa mencegahnya jika Tuhan menghendaki, pasti semua terjadi. Nah, sekarang kembali kita berpikir tentang manusia, jika manusia punya kemauan, dan berpikran positif terhadap Tuhan, menyayangi sesama manusia tanpa membedakan ras, golongan dan agama, selalu berusaha dengan sekuat tenaga, berdo’a dan ikhlas dalam beramal, apakah Tuhan tega untuk menzaliminya? Tuhan sangat Penyayang, dan mencintai umat manusia, saya kira kalau manusia berkeinginan untuk merubah dirinya menjadi manusia yang berguna, dengan cara mengembangkan potensi diri yang dimiliki, saya yakin bahawa: Tuhan akan menolong hambanya, selagi hambanya mau menolong dan berbuat kebaikan untuk diri dan juga umat manusia. Percaya dengan hal ini, berarti kita positif dalam memandang kehidupan, dan dipandang sebagai manusia yang pandai bersyukur.
Selanjutnya - MEMBERDAYAKAN POTENSI DIRI

Minggu, 29 Agustus 2010

BUKTIKAN MIMPI BESARMU

Saya mencintai kalimat: “i like dream big” (saya suka bermimpi besar) kenapa? Karena apa yang saya katakan dan fikirkan itu, akan saya usahakan dan semaksimal mungkin untuk mewujudkannya.
“Nilai dari seseorng itu ditentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya”.(Khali Gibran)
Masalah terpenting yang harus dipersiapkan oleh manusia untuk maju kedepan, mencapai prestasi adalah, itikad dan kemauan yang keras. Kita butuh persiapan yang matang untuk menggapai cita-cita, mulai dengan mempersiapkan diri, secara mental, dan menambah pengetahuan dengan banyak belajar. Orang yang berfikiran maju selalu berorientasi kepada pembinaan mental yang memadai, serta tangguh, karena masalah kehidupan ini sangat kompleks. “Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh”. ( Andrew Jackson)

Jadi, segala sesuatunya harus benar-benar di persiapkan: Kalau ingin maju siapkan diri dengan bekal ilmu, gali pengetahuan sebanyak mungkin,siapkan pisik dan psikis, mental-spiritual, optimislah dalam menjalani hidup, pantang menyerah dalam berusaha. Memang ini tidak gampang, semuanya butuh pengorbanan, dan keyakinan diri yang kuat.

Kegagalan orang dalam memperjuangkan cita-citanya berakar dari sifat pesimisme, putus asa. Hal ini memang tidak sehat, bahkan bisa jadi racun bagi diri yang mematikan perjuangan. Betapa banyak orang yang berhenti di tengah jalan, gara-gara terjurumus kedalam kemaksiatan, tidak mengindahkan norma agama dan norma sosial. Betapa banyak orang yang menagis meratapi nasibnya dengan sebab, dirinya tidak siap bersaing dengan orang yang berprestasi. Apa pun itu bentuknya, kita perlu mengkaji lagi “nilai diri” yang telah kita capai. Membuang-buang waktu saja, kalau hidup hanya dipake meratapi diri dengan kesedihan mendalam. Belum terlambat, dan kita masih banyak kesempatan untuk mengejar mimpi, ingat Tuhan sangat kasih terhadap manusia. Apa yang akan Tuhan berikan pasti yang terbaik. Kalau kita meyakini akan hal itu, Tuhan akan memudahkan segala urusan kita. Kita harus banyak belajar dari pengalaman, supaya tidak terrjadi lagi hal yg tidak menyenangkan menimpa diri, dengan banyak belajar tentu kita akan lebih berhati-hati dalam melangkah. “Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan, dan semua hasrat-keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan, dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran,dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta”. (Khali Gibran)


Betapa pentingnya ilmu pengetahuan, jika manusia tidak berilmu pastilah akan menjadi binatang yang tanpa arah, tidak tau apa yang akan dilakukan.
“Cara untuk menjadi di depan adalah memulai sekarang. Jika memulai sekarang, tahun depan Anda akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan Anda tak akan mengetahui masa depan jika Anda menunggu-nunggu”.( William Feather )

Mulailah untuk melangkah dan melakukan sesuatu yang positif, jangan hanya menunggu dan jadi penonton, kembangkan potensi yang kita miliki, jangan pernah mengalah, karena rintangan selalu menghadang, tapi berusahalah selalu untuk mengejar apa yang akan kita capai, Tuhan pasti akan menolong apa yang kita inginkan, dengan syarat apa yang kita lakukan ikhlas .
Selanjutnya - BUKTIKAN MIMPI BESARMU

Minggu, 07 Maret 2010

OPTIMIS PANTANG MENYERAH DALAM BERUSAHA

Kehidupan banyak memberikan pilihan kepada manusia,kesuksesan suatu pilihan bagi manusia,dengan meraih sukses manusia bisa merasakan kebahagian yang tiada tara.Banyak sebagian manusia yang melakukan sesuatu yang tidak berhasil, dan akhirnya menyerah terhadap keadaan dirinya memvonis gagal. Jangan sampai sesuatu yang kita lakukan berhenti di tengah jalan.Segala sesuatu perlu di persiapkan baik secara ilmu maupun secara pengalaman,mempersiapkan diri dengan bekal yang mumpuni akan semakin mendekatkan kepada tujuan yang kita ingin raih.

Jangan menyerah terhadap keadaan,tapi berusahalah untuk menguasai keadaan dengan berbagai cara. Orang yang memandang sesuatu dengan pesimis akan berdampak pada sikap apatis alias jumud.Itu merupakan,sikap yang tidak sehat bagi pembentukan karakter,lain halnya dengan pribadi yang optimis yang memandang segala sesuatu sebagai peluang untuk sukses.Nah,inilah yang kita harapkan sikap fositif dalam diri untuk selalu berusaha dengan lebih baik.

Apa yang kita lakukan dengan baik dan maksimal itu akan kita rasakan manfaatnya juga,suatu usaha yang di lakukan oleh seseorang itu merupakan cerminan keberhasilannya.Kalau sungguh-sungguh dalam hidup dan penuh dengan rasa percaya diri terhadap kemampuan dan tidak pernah mengeluh terhadap masalah yang ada, ini akan menjadi motivasi bagi dirinya untuk selalu mendapatkan yang terbaik.Orang yang berleha-leha dan banyak putus asa dalam berusaha,tidak akan pernah meraih prestasi melainkan kekecewaan dalam hidup.Orang males akan selalu jalan di tempat,tidak akan pernah maju,hidupnya hanya di habiskan untu berbuat yang tidak ada gunanya.

Dalam melihat realitas,orang-orang yang sukses itu adalah pekerja keras punya etos kerja yang baik,komitmen jelas,tak ada dalam dirinya keluh kesah,optimis dan berusaha tidak lupa berdo’a dan ikhtiar.Inilah suatu kemajuan bagi diri dalam mengembangkan potensi yang Allah telah berikan,jangan pernah berputus asa dalam berusaha untuk maju dan sukses.Tuhan berfirman: “Janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah,tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat”.

Putus asa adalah sifat pesimis dalam memandang sesuatu dari segi yang negative thingking,tanpa ada gerak dalam dirinya untuk berusaha.Inilah sifat orang-orang yang sesat,yang tidak mempunyai trik dalam menghadapi masalah yang menimpa dirinya.Kebodohan terbesar ketika kesesatan diri di biarkan begitu saja,tanpa berusaha untuk merubahnya.Tidak ada pilihan lagi kecuali berusaha dengan optimis pantang menyerah dalam berusaha,mempersiapkan diri dengan bekal ilmu dan keilmuan untuk meraih sukses.”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang profesional dalam bekerja” (inallaha yuhibul muhtarif).
Selanjutnya - OPTIMIS PANTANG MENYERAH DALAM BERUSAHA

Jumat, 05 Maret 2010

MEMBACA SUATU KEBUTUHAN

Manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu yang baru baginya untuk mengisi jiwanya,supaya lebih pandai dan bijak,manusia perlu membaca dan belajar secara kontinuitas,dalam konsepsi agama: ”Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan,menciptakan manusia dari segumpal darah,bacalah dengan nama Tuhanmu yang mulia,yang mengajarkanmu dengan pelantaraan kalam,nmengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya” (Qs.al-Alaq: 1-5)

Membaca adalah sumber ilmu pengetahuan,siapa yang menjadikan bacaan sebagai kebutuhan maka dia akan mendapatkan ilmu yang berkembang. Kata “Iqra” (bacalah !) adalah suatu perintah,supaya membaca dengan hati,penuh penghayatan makna. Rasulullah ketika di suruh membaca oleh Malaikat Jibril,mengatakan: ”ma ana biqari”( saya tidak bisa membaca) samapai di ulang-ulang tiga kali.Hikmah yang terkandung bagi umatnya adalah,membaca bukan hanya dalam konteks yang kongkret saja.Tapi juga harus pandai membaca yang abstak. Dengan inilah,budaya baca sangat di anjurkan dalam agama,supaya daya nalar berkembang, dan analisa lebih tajam.Kemalasan orang dalam membaca,merupakan penghambat kekritisan diri,karena suatu bacaan menawarkan banyak informasi,yang merupakan kebutuhan manusia.

Ketika saya,membaca buku “Reading at University a guide for students”. karya Gavin Fairbairn dan Susan A.Fairbairn,saya sangat tertarik dengan perumpamaan tentang jenis pembaca,dengan ciri masing-masing sebagai berikut:

1.Pembaca sebagai pesulap, yang sekaligus menyimpan banyak gagasan di udara.

2.Pembaca sebagai koki, yang mengasinkan pendapat-pendapatnya sendiri secara perlahan-lahan dengan berbagai bumbu bacaan dari sana sini.

3.Pembaca sebagai penjelajah, yang menyelam dalam-dalam ke wilayah intelektual yang tak di kenal dan kadang-kadang berisiko.

4.Pembaca sebagai tukang kebun, yang secara hati-hati merencanakan dan menyiapkan lahan dengan memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin di ajukan mengenai teks yang di bacanya,memelihara gagasan-gagasan yang kuat yang di temuinya ketika sedang memupuk bagian-bagian yang lemah.

5.Pembaca sebagai detektif, yang melacak argument-argumen dan alur pemikiran,baik yang terdapat di dalam maupun di antara teks-teksnya.

6.Pembaca sebagai kekasih, yang dengan murah hati dan penuh kasih mengurut hal-hal yang di temukannya untuk di pergunakannya dalam penulisan tugasnya.

6.Pembaca sebagai pembuat peta, yang terlibat dalam pembuatan sketsa bentuk bukunya,penentuan titik-titik tinggi dan rendahnya,dan ciri-cirinya yang menarik, supaya ia sendiri gampang menemukannya lagi ketika ia membutuhkannya di kemudaian hari.

Apapun masalah gaya tipikal membaca Anda itu perlu di kembangkan,dengan sendirinya ketika kita menjadikan bahan bacaan sebagai kebutuhan,layaknya kita membutuhkan makan dan minum untuk tuhuh,tapi sebenarnya kalau membaca lebih dari itu. Dalam kitab tariqush-shahih ilathalabul ilm wa barnamaj ta’limudzati.Karya Syeikh Amin al-Haj. Imam Ahmad bin Hanbal rahimallah mengatakan: “Kebutuhan manusia akan ilmu (bacaan) lebih banyak kebutuhannya dari pada makan dan minum.Karena sesungguhnya makan dan minum membutuhkan kepadanya dalam sehari satu atau dua kali. Adapun ilmu (bacaan) membutuhkan kepadaanya hanya bilangan detik atau napas”.

Kebutuhan itulah yang memotivasi seseorang utuk rajin membaca dan berdiskusi,dengan membaca segala masalah bisa di sikapi dengan bijak.Membaca adalah jendela dunia,mengandung arti bahwa sumber-suber informasi dunia,kunci-kuncinya hanya dengan terus belajar (long live education),banyak membaca dan bertanya kepada ahlinya. Belajar Jangan hanya mengandalakan di bangku sekolah atau kuliah,tapi carilah dimanapun kita berada,sumber ilmu ada dimana,kalau membaca tidak dapat di bangku kuliah (formal), kita bisa belajar kepada alam atau lingkungan (non Formal) hanya saja di sini di tuntut ketekunan dan konstan dalam membaca.Tentunya,bacaan yang kita baca jagan asal masuk,tapi perlu di saring (filter), dan di analisa,itulah makna membaca substansi,melihat dan menghayati kandungan maknanya dan mengkritisinya.
Selanjutnya - MEMBACA SUATU KEBUTUHAN

Rabu, 17 Februari 2010

TEOLOGI: SUATU TAFSIR KEBENARAN


FILSAFAT  TAFSIR KEBENARAN
Dalam kebenaran tersimpan kebijaksanaan,dan keadilan.Dalam istilah teologi kebenaran adalah mutlak hanya milik Tuhan.Di dalam konsepsi al-Qur’an di sebutkan: “Kebenaran berasal dari Tuhan,maka janganlah kalian ragu akan kebenaran itu”.Benar dalam penafsiran manusia masih bersifat relatif.
Dalam kehidupan modern, sering dibedakan antara kebenaran Tuhan dengan kebenaran manusia. Sehingga teologi harus diturunkan pada level kemanusiaan (antropomorfisme). Ketuhanan baru berarti, jika mampu menyelesaikan dan berangkat dari paradigma kemanusiaan. Sampai-sampai sekularisme mensyaratkan “hilangnya Tuhan” demi kemajuan dunia.


Kita tentu bertanya, bagaimana bisa ciptaan terbebas dari pencipta? Bisa kata Newton, sebab alam seperti jam yang memiliki mesin sendiri. Jadi, setelah Tuhan mencipta “jam” itu, maka Dia dianggap nganggur. Manusia dengan akalnya telah mampu melihat dan bahkan menguasai mesin (hukum alam) yang membuat jam berdetak. Maka dimana lagi tersedia ruang bagi Tuhan?

Adalah Muhammad Bagir MA, dosen filsafat dan tasawuf pada Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, yang menjadi salah satu garda depan, dari pihak yang mengritik paradigma ini. Melalui filsafat perenial, sebuah disiplin keilmuan yang menggabungkan antara rasionalitas filosofis dengan dimensi irfani dari tasawuf, ia mencoba mengklarifikasi salah paham akal modern, yang menciptakan degradasi makna berpikir, dari intelek (akal batin), kepada reason (rasio). Baginya, pemisahan antara akal dan jiwa inilah yang membuat manusia modern, menjadi tuhan-tuhan kecil diatas bumi, yang sayangnya tak mampu melepaskan diri dari jerat samsara (kesengsaraan), akibat kedunguan spiritualitas, dan arogansi egoisme. Meminjam Lukacs, manusia modern tengah mengalami transcendental homelessness : hilangnya hubungan harmonis dan keterkaitan batiniyah dengan dunia. Orang tidak lagi menemukan makna dan tujuan hidup, justru ketika berbagai alat kemanusiaan telah dikuasai. Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan dosen kelahiran Singapura dan lulusan Universitas Qum Teheran tersebut.

Menurut Mas Bagir, bagaimana tasawuf bisa menjelaskan, bahwa ketika berada di jalan Tuhan, maka kita bisa menyelesaikan masalah dunia (kemanusiaan)?

Kita lihat dalam Kristen dulu ya. Dalam Kristen, the word (kalimat) itu mendaging, meat, flesh. Antropomorfisme. Maknanya, Tuhan turun dalam form manusia. Ketika Tuhan turun dalam form manusia, sepertinya Tuhan merasakan kesengsaraan manusia. Dia mau menunjukkan, bahwa Aku dalam form manusia bisa menyelamatkan kalian dari kesengsaraan. Tuhan berkata, bahwa ketika manusia terhubung dengan Aku, mereka bisa selamat, salvation. Sementara dalam Islam kan teo-morfisme, bukan antropomorfisme. Tuhan tidak “mendaging” dalam manusia, tetapi manusia melangit. Jadi teo-morfisme merupakan tajalli Tuhan. Perbedaannya ada tapi tidak mencari mana yang benar mana yang salah. Disini manusia jadi tajalli-nya Tuhan. Berarti manusia jadi refleksi. Dan ketika manusia menjadi tajalli Tuhan, dirinya sendiri sudah tidak ada lagi. Jadi dalam Islam, manusia bisa menghilangkan individualisme untuk mencapai pada the divine (ketuhanan).

Apa kaitannya dengan individualisme?

Semua suffering, masalah dunia di hidup kita kan karena individualitas kita. Karena kita mengakui “aku”, dalam Buddhism kan gitu juga. Kalau aku-nya hilang, ya nggak akan ada masalah. Misalnya kalau kita bawa dalam preposisi: ada subjek ada predikat. Predikat bisa gembira, sedih, aku sedih, aku gembira, aku stress. Coba kalau subjek (aku) -nya hilang, nggak ada apa-apa lagi kan? Kita boleh saja sedih, sakit, tetapi karena “aku” tak ada, maka tak ada yang merasakan segala kesakitan itu.

Nah disini bedanya ilmu akhlak dan metafisik. Misalnya, akhlak takabur. Dalam ilmu akhlak dijelaskan, definisi takabur itu apa, efek yang akan merusak jiwa kita gimana? Jadi kita harus gantikan pada predikat yang positif. Disini ilmu akhlak lebih konsentrasi pada predikat. Tapi selagi ada subjek, tetap ada predikat kan? Sementara irfan dan tasawuf konsentrasi pada subjek. Hilangkan subjek dong. Ketika subjek hilang, Subjek dengan “S” besar muncul. Aku (Ana) yang besar, maka predikat-predikatnya muncul kan, Asmaul husna. Itu namanya tajalli. Dengan cara itu manusia selamat dari segala kesengsaraan dalam kehidupan individualisnya.

Bagaimana cara untuk menghilangkan “aku”?

Harus ada ilmu. Ilmu yang selama ini kita pelajari ada dua macam. Ada accumulatif knowledge, ada yang annihilatif knowledge. Accumulatif itu kan akumulasi. Kita semakin banyak mencari ilmu. Ketika terjadi akumulasi, maka harus ada subjek, dan subjek ini mengakumulasi knowledge. Aku ‘alim, aku mengetahui, aku lebih pintar. Tetapi annihilation, nihilasi (fana’), ilmu yang menghilangkan subjek. Misalnya, laa ilaahaillallah, tiada Tuhan selain Allah. Kenapa? Karena Dia mutlak. Sesuatu yang mutlak, jelas tidak terbatas. Sesuatu yang tidak terbatas, tidak mengizinkan dua realitas. Ketika dia terbatas, pasti ada yang lain. Jadi konsep tauhid juga berkata seperti itu. Tidak ada realitas, selain Dia menghilang semuanya. Kalau hilang subjek ya sudah. Kita akan melihat seluruh alam ini dengan kaca mata Dia, bukan kaca mata individualis lagi. Jadi kalau ada masalah, kita kan sering lari darinya, dan masuk masalah lain. Yang harus kita lakukan seharusnya beyond, melampaui. Apa yang bisa bawa kita keluar dari masalah.

Karena masyarakat modern kan, kalau ingin menyelesaikan masalah ekonomi ya dengan ekonomi, politik dengan politik, dsb. Nah kalau pendekatan spiritual, misalnya kalau kita menghadapi masalah politik, yang kita lakukan adalah “penghancuran kedalam” ya?

Ya, karena kalau sudah hancur aku-nya, yang muncul kan tajalli-nya Allah. Contoh, Banyak teman-teman yang tanya sama saya, “Saya takut mau suluk”. Kenapa? “Kalau saya suluk, mungkin saya akan tinggalkan dunia ini”. Seorang istri akan bimbang kalau suaminya tinggalkan dia, tidak perdulikan nafkah, anak-anak.


Seolah-olah Tuhan itu di barat, dan dunia di timur ya. Kalau ke barat ya harus ninggalin timur?
Makanya saya terus bilang, “Bu, kalau orang suluk, dia akan hilang egonya, individualnya, ananiyah-nya. Yang akan tajalli itu Tuhan. Ketika Tuhan tajalli, Tuhan al-’alim, Tuhan al-raziq, Tuhan arrahman. Lalu ibu akan berinteraksi dengan siapa? Jadi suami ibu nggak ada, yang ada hanya Yang Pengasih dan Penyayang. Pasti dia al-raziq. Ketika dia kerja, kasih uang, dia sebagai al-raziq, bukan sebagai manusia yang memberi nafkah pada isteri. Nah banyak orang melupakan hal ini. Ketika manusia menyatu dengan Tuhan, orang pikir kalau kita mau suluk, kita akan tinggalkan semuanya. Padahal dalam al-Qur’an Allah itu kan wahuwa ma’akum, Dia bersama dengan kalian, ainamaa kuntum, dimana saja kalian berada. Jadi kalau kita menjadi manifestasi Tuhan, kita bukan hanya dengan keluarga, kita bersama dengan semua manusia, pohon, alam, dsb. Contoh. Nabi Muhammad saw. sampai sekarang hadir bersama kita. Nabi Muhammad saw. bukan keberadaan temporal. Sampai sekarang ia bersama kita. Assalamu’alaika ayyuhan Nabi. Jadi bukan terputus dari kehidupan, justru semakin terkait dengan kehidupan.

Nah, ada juga problem Mas. Masyarakat kan sering memisahkan akal dengan hati. Artinya, mungkin bisa dijelaskan perbedaan fungsional antara reason (rasio) dengan intelek (qalbu)?

Kalau reason, kan berada di wilayah ilmu hushuli, konseptual. Padahal ilmu konseptual sebenarnya produksi manusia sendiri. Tapi kalau intelek itu ilmu hudhuri, dimana subjek dan objek tidak terpisah. Antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak pernah terpisah. Dia menyatu. Seperti, saya sadar dengan diri saya sendiri. Aku tahu aku. Aku subjek, aku juga objek kan. Demikian juga, aku lapar. Lapar itu satu objek pengetahuan, kita tahu. Subjek ilmu, saya kan. Tapi lapar bukan berada diluar saya, tetapi didalam diri saya sendiri. Bukan identitas saya juga, tetapi sebagian dari aspek saya.

Kalau Maulana Rumi menceritakan perbedaan itu. Diceritakan ada kompetisi melukis, menggambar taman bunga. Satu group minta kanvas, kuas, dan cat yang paling bagus. Sementara group lain hanya minta cermin. Setelah jadi dilihat, oh ini lukisannya bagus, lukisan di kanvas, persis seperti taman, tapi cuma satu dimensi saja. Sementara cermin kan refleksi, oh ini persis sekali. Nah, kalau filsuf itu melukis realitas, dengan konsep, ide dan pemahamannya. Kalau seorang ‘arif, realitas dimasukkan dalam hatinya, cermin itu qalbu-nya. Realitasnya ada didalam cermin, jadi tidak terpisah dari dia. Makanya dalam hadist, “Bumi tidak bisa menempatkan Aku, langit juga tidak bisa, kecuali qalbu mu’min”. Nah dimana kita menempatkan Tuhan yang tidak terbatas? Dengan merefleksikan Dia tentunya.

Cermin itu didalam manusia?
Dalam manusia terdapat bayangan diri.baik dan jeleknya perilaku manusia akan tercerim dari cara dia berkata dan berfikir.kalau manusia itu baik,akan terpancar aura positif pada diri dan juga lingkungannya.Manusia adalah cermin bagi saudaranya.berilah saudara kita teladan yang baik,itu akan menjadi kebahagian yang tiada tara.

Qalbu itu cermin. Allah ada disitu. Qalbu kan divine, bukan human. Gimana qalbu bisa menempatkan Tuhan yang tidak terbatas, kecuali kalau qalbu itu sendiri adalah Tuhan. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, maksudnya ya Tuhan yang mengenal diri-Nya sendiri. Nggak mungkin manusia kenal Tuhan. Jadi Tuhan itu mengenal diri-Nya sendiri.

Intelek seperti itu. Kalau ilmu hushuli kan konsep, melukis realitas. Kalau ilmu hudhuri, kita masukkan realitas dalam hati. Kalau kita melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Nabi melihat politik dengan kaca mata Tuhan gimana? Jadi Nabi setiap ada permasalahan selalu bertanya kepada Allah, itu bahasa teologisnya. Tetapi sebenarnya, Aku adalah Dia. Jadi bukan politik humanis lagi, tapi politik divine. Disini filsafat perennial, tasawuf, atau irfan, mau menghidupkan divinity (ketuhanan) dalam diri manusia. Ketika Tuhan hadir, kan alaa bi dzikrillahi tathmainnul qulub. Salah satu nama Tuhanpun al-Mu’min, Yang Memberi Keamanan. Jadi ketika Dia hadir, Dia akan memberi keamanan pada semunya. Khan ada hadist, al-mu’min miratul mu’min (mukmin adalah cermin bagi mukmin). Disini yang bercermin bukan antara dua manusia mukmin, tetapi antara mukmin manusia dengan al-Mukmin (Tuhan).

Di Paramadina saya pernah ditanya, “Tuhan dengan manusia kan beda?” Saya jelaskan, dalam al-Qur’an ada ayat tentang Nabi Muhammad, innama ana basyarun mistlukum (Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian). Saya bertanya pada Bapak itu, “Pak, disini jelas bahwa Muhammad itu seperti manusia, seperti kalian, mistlukum. Seperti, jadi sebenarnya bukan persis manusia. Lalu kalau begitu, Muhammad itu apa?”

Maksudnya?
Tuhan mau menyelamatkan manusia di bumi ini. Tetapi kalau Tuhan menurunkan manusia, sama kan, kualitas, kharakter. Jadi nggak bakal selamat. Maka yang harus membimbing manusia itu harus Aku, kata Tuhan. Makanya Aku akan jadikan manusia, khalifah: cermin Aku sendiri. Jadi Tuhan, mau membimbing manusia tanpa meninggalkan langit, caranya bagaimana? Bahasa simbolisnya kan. Kalau Tuhan turun, langit kosong dong. Khan di al-Qur’an, fi al-samaai Ilaahun fi al-ardli Ilaahun (di langit Tuhan, di bumi Tuhan). Satu cara untuk Tuhan turun ke bumi, tanpa meninggalkan langit itu, taruh cermin dibawah, namanya khalifatullah. Dia sendiri yang datang. Al-Haadi, Yang Memberi Petunjuk.

Cara atau metodologi dalam kedua ilmu yang berbeda itu seperti apa Mas? Al-Ghazali berkata, bahwa pencarian kebenaran tidak hanya melalui rasio, tetapi juga eksperimental ruhaniyah. Apakah seperti itu?

Mereka yang belum menyadari kehadiran intelek, paling tidak memiliki panca indera, dan rasio. Indera kita gunakan untuk melihat, afalaa tadabbarun, kamu lihat langit dan bumi, dan kamu kontemplasi. Rasio untuk berpikir. Sementara proses pemikiran kan berada dibawah bimbingan wahyu, dari Dia juga. Jadi tidak terputus dari Tuhan. Nah kita gunakan semua ini, untuk diarahkan pada kesadaran intelektus tadi. Ada beberapa langkah yang harus kita lakukan.

Pertama, kita harus menempatkan diri kita dalam ruang agama. Tidak mungkin diluar agama. Sekarang di Barat ada yang nggak pakai agama, spiritual universal. Kata mereka, kalau sudah terikat oleh agama, maka tidak universal lagi. Padahal kalau kita terikat pada satu agama, kita makin universal. Karena tidak mungkin ada universal tanpa partikular. Contoh. Orang bilang kalau sudah ada batin, nggak butuh dhahir lagi. Bisa nggak saya bilang, saya kenal atas, tapi bawah saya nggak tahu? Nggak bisa kan. Kenal atas karena kenal bawah. Dhahir itu ada, karena ada batin kan, demikian sebaliknya. Nah, dalam agama ada jalan esoteris, jalan yang menghubungan manusia dengan al-Haq. Manusia harus ikut jalan itu. Itu syarat yang berada diluar diri manusia.

Kedua, cara yang ada dalam diri manusia. Yakni himmah (aspirasi yang tinggi). Kata Syeh Ahmad Mustafa al-Alawy, dalam buku Sufi Abad ke-20 (Mizan), syarat minimal jika manusia ingin menuju Tuhan adalah himmah, aspirasi yang tinggi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Misal, dalam satu tempat yang gelap, maka satu lubang cahaya yang dikit saja, itu sudah cukup. Kalau nggak ada lubang, semua tertutup, kita nggak bisa melampaui ruang yang gelap.

Kata hadist Qudsy, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta”.

Ya. Ketika ada aspirasi baru ada respon, Jadi adzkuruunii adzkurukum, jika kau mengingat Aku, maka Aku pun mengingatmu. Setelah himmah, maka harus ada iman. Iman kepada agama. Agama terbentuk dari wahyu, dan wahyu sebenarnya manifestasi dari Dia, jadi iman kepada Dia sebenarnya. Ini yang subjektif, himmah dan iman. Sementara yang objektif tadi, agama dan jalan dalam agama. Seorang sufi berkata, “Dari Tuhan kepada manusia ada jalannya. Tapi dari manusia ke Tuhan, nggak ada jalannya”. Jadi kalau ada orang tenggelam, yang melempar tali itu siapa? Orang yang dikapal atau yang tenggelam? Jadi jalan dari kapal ke laut ada, tapi kalau sebaliknya tidak ada. Oleh karena itu syariat dari Tuhan, bukan manusia yang membuat syariat. Jalan thariqah pun harus dari Tuhan. Karena kita kan berada di luar, mau kedalam. Apa kita buat jalan sendiri? Nggak mungkin. Itu yang saya maksudkan, agama harus ada “jalan kedalam”, dari batin agama itu sendiri.









Selanjutnya - TEOLOGI: SUATU TAFSIR KEBENARAN

Kamis, 11 Februari 2010

JANGAN MAU DI EKSPLOITASI OLEH KAUM ADAM

Krisis keuangan akhirnya mengharuskan para ibu rumah tangga perlu memiliki kemampuan berhitung lebih cermat. Bekerja di luar rumah sering bukanlah solusi yang tepat, apalagi jika memiliki anak balita.

Islam menetapkan tanggung jawab utama wanita yang telah berumah tangga adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Perawatan, pengasuhan, pendidikan anak usia dini adalah hal yang dikorbankan ketika ibu keluar rumah untuk bekerja. Belum lagi urusan pengaturan rumah tangga yang masih menjadi tanggung jawabnya 

Untuk itu, hal yang pertama kali dilakukan ketika krisis keuangan melanda rumah tangga adalah menetapkan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi prioritas. Dalam konsepsi islam,tentang hak dan kewajiban wanita yang dapat ditinjau dari segala aspek yang dapat disimpulkan dalam dua bagian:

1) Aspek Ibadah

Adalah hubungan manusia dengan Penciptanya, tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab sendiri/ individual yang tidak dapat siapapun untuk ikut campur tangan dalam hal ini.

Dalam aspek ini, tidaklah ada perbedaan antara laki-laki dan wanita kecuali dalam beberapa hal kecil yang berbeda yang diakibatkan oleh perbedaan dalam penciptaan, bentuk dan fitrah, karena wanita merupakan manusia mukalaf layaknya seorang laki-laki. Dan betanggung jawab sebagaimana layaknya laki-laki

Sebagaimana diterangkan dalam Firman Allah SWT surat Ghafer ayat 40:

من عمل صالحا من ذكر او انثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة يرزقون فيها بغير حساب

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan dari laki-laki maupun wanita dan mereka sedang dalam keadaan beriman kepada Allah SWT merekan akan masuk surga dan mendapat reziqi didalamnya yang tidak terhitung.

Al-Zalzalah ayat 7-8

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره

ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan walau sekecil zarrah (atom) ia akan melihat kebaikan

Dan kata (من) dalam bahasa Arab adalah Isim Mausul menerangkan bahwa yang ditujukan adalah laki-laki dan wanita.

2) Aspek Muamalat dan hubungan sosial.

Hubungan manusia biasanya berkembang mengikuti keadaan dalam lingkungan serta hubungan mereka masing-masing dengan lingkungannya apakah hubungan individu maupun hubungan umum.Disinilah tanggung jawab seorang wanita dapat diukur sesuai dengan besar kecilnya lingkaran pergaulannya, bilamana lingkungan ini membesar maka tanggung jawab akan besar pula dan jika lingkaran itu mengecil maka akan kecil pula tanggung jawab, dimana tanggung jawab tersebut berkaitan erat dengan hak dan kewajiban.

Istri mempunyai peran sangat besar terhadap keluarga. Banyak pekerjaan istri yang sebagian besar suami tidak bisa melakukannya, dan ada satu tugas istri yang tidak bisa dilakukan suami, yaitu melahirkan keturunan. Karena itu, kalau ada suami yang tegah, dan sengaja memaksa istrinya bekerja, secara tidak langsung telah mengeksploitasi istrinya. Wanita itu harus tau, kalo Allah itu meninggikan Laki-laki satu derajat lebih tinggi dibandingkan Wanita.

QS An-Nisa : 34

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

[289]. Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290]. Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291]. Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan 
           rumah tanpa izin suaminya.
[292]. Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah 
          mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, 
         bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak 
         meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan 
         seterusnya.

Dalam pandangan Islam, suami istri memiliki perannya masing-masing. Seorang suami bertugas sebagai pencari nafkah sedang istri sebagai pengatur rumah tangga. Keduanya saling melengkapi bukan saling menyaingi. Dengan adanya pembagian peran itu, anak-anak tercukupi kebutuhannya baik materi (nafkah dari kedua orang tuanya khususnya dari laki-laki) maupun non materi/psikologi (kasih sayang dari orang tuanya khususnya dari perempuan). Hal inilah yang akan menjadikan anak merasakan hadirnya kedua orang tuanya dalam hati yang nantinya akan memunculkan sifat bakti pada mereka hingga mereka tua renta sekalipun.

Islam dan Jaminan Sosial.
Dalam Islam, jaminan sosial secara sistematis telah tetap. Bagi laki-laki diwajibkan mencari nafkah. Jika mereka tidak mampu karena modal dan softskill maka Negara akan menyediakan modal dan pengajaran untuk softskillnya. Lapangan kerjapun dibuka lebar-lebar oleh pemerintah agar tidak ada alasan bagi laki-laki untuk menganggur padahal ia mampu. Nafkah yang didapat dari laki-laki itu akan diberikan pada keluarganya yang menjadi tanggungannya. Jika laki-laki itu lemah tenaganya atau tak sanggup lagi bekerja karena sudah tua renta maka yang wajib menafkahi ia dan keluarganya adalah ahli warisnya dan kerabatnya yang terdekat. Jika ahli warisnya tidak sanggup menafkahi mereka atau mati maka beban nafkah akan ditanggung oleh Negara dari pemasukan zakat. Jika Negara tidak sanggup maka hal itu akan dibebankan pada kaum muslimin yang kaya.

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)  (Q.s Al Ma’arij 24-25)

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin..” (At Taubah 60)

Jadi,kembali kepada masalah manita yang menjadi tulang punggung keluarga dalam arti yang menafkahi keluara,dalam konteks ini wanita tidak wajib menafkahi keluarga,yang mempunyai tanggungan sebagai yang menafkahi keluarganya tetap suami sesuai dengan firmn Allah:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)
Selanjutnya - JANGAN MAU DI EKSPLOITASI OLEH KAUM ADAM

Rabu, 14 Oktober 2009

KEBEBASAN DALAM HIDUP

"Beribadahlah kepada Tuhanmu,hingga datang kepadamu keyakinan"(Qs.Al-Hijr:99)

Para ahli tafsir sepakat bahwa "keyakinan" dalam ayat ini mengandung arti: "saat kematiaan".
Hidup ini memang indah.Allah memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih yang terbaik buat kita.Manusia yang berpikir yang menggunakan akal pikirannya akan senantiasa mempertimbangkan baik dan buruk suatu masalah. Allah menyuruh memilih diantara dua pilihan antara beriman dan kafir.Dalam firmannya: "Maka barang siapa yang mau beriman berimanlah,dan barangsiapa yang mau kafir silahkan kafir".Jadi hidup itu banyak pilihan.tapi,tentunya pilihan itu harus yang bisa membawa diri kita kepada kebaikan.Kebaikan harus dibarengi dengan keikhlasan yang tidak ada kemusyrikan dan sifat ria yaitu ingin mendapatkan pujian manusia.Nah,perlunya memahami kebebasan itu sendiri. Menurut Syeik Daqqaq :"Kebebasan berarti bahwa si hamba, bebas dari belenggu sesama makhluk, kekuasaan makhluk tidak berlalu untuk dirinya.Tanda absahnya kebebasan adalah,bahwa tersingkirnya pembedaan tentang segala hal dalam hatinya, sehingga semua gejala duniawi sama di hadapannya".Hakikat kebebasan itu sebenarnya pada tingkat ubudiyah, sebab jika ubudiyahnya benar, maka kebebasan dari belenggu akan sempurna.Jadi kalau kita berbicara tentang kebebasan, kita harus merasakan bebasnya diri dari perbudakan dari sesama makhluk, jangan mau di dikte sama orang lain,kita hanya miliki Allah dialah yang layak bagi kita.Tidak ada yang bisa memperbudak kita, mengatur-ngatur kita, baik perkara duniawi yang bersifat sementara,pencarian kepuasan hawa nafsu,keinginan ataupun kebutuhan.

dalam hal ini patut kita renungkan ketika Asy-Sibly di tanya: "Tidak tahukah Anda bahwa Allah Maha penyayang?" Beliau menjawab: "Tentu. Tapi, kerena aku telah tahu bahwa Dia Maha Penyayang, maka aku tidak pernah meminta kepada-Nya agar menyayangiku.Dan maqam kebebasan sunggulah mulia".
Ketika berhadapan dengan manusia,biasalah bersikap wajar,tidak harus takut,lihatlah manusia itu sebagai manusia yang sama keadaannya seperti kita, hanya status, nasib dan ketakwaannya yang berbeda.
Selanjutnya - KEBEBASAN DALAM HIDUP

Senin, 12 Oktober 2009

SANG ISTRI YANG PENGERTIAN

"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah" (HR.Muslim)
wanita yang sholehah adalah wanita yang selalu berusaha secara terus-menerus untuk berbuat baik.Dalam memilih istri perlu selektif, jangan sampai kita tertipu dengan kecantikan luarnya. Kecantikan memang penting tapi bukan segala-galanya, masih banyak faktor lain yang akan mempercantik dirinya. Kalau kita lihat dalam konsep Islam yang menjelaskan tentang beberapa faktor yang harus di perhatiakan, yaitu: kekayaan, kecantikan, keturunan, dan agamanya.Nah, dalam pernikahan yang perlu di prioritaskan adalah faktor agamanya. Karena kalau yang mengerti akan agamanya, dia akan tahu cara menempatkan dirinya.

Sebetulnya dalam konteks pernikahan itu,yang di maksud "karena agamanya" yakni memilih wanita yang cerdas dalam bersikap dan mudah diarahkan kedalam kebaikan.Kekayaan yang dimaksud bukan hanya kekayaan harta benda semata,tetapi kekayaan hati nurani.Sesuai dengan hadits Nabi: "Bukankah orang yang disebut kaya itu yang banyak harta benda? Tetapi kaya dalam pandangan Islam adalah kaya hati nurani". Kecantikan bukan hanya penampilan fisik semata, tetapi kecantikan akhlak budi pekerti itulah yang penting, sehingga aura kecantikan akan selalu kelihatan dan ekspresi dirinya (inner beauty). Keturunan bukan hanya keturunan bangsawan semata, tetapi keturunan yang di maksud adalah keturunan keluarga baik-baik dan terhormat.Sungguh bahagia orang yang mempunyai istri yang baik yang cerdas, punya kepribadian mempesona, punya cinta kasih yang tulus, mencintai suaminya karena mengharapka ridhonya, dia yakin akan kebenaran ajaran agamanya bahwa pengabdiaan terhadap suaminya adalah jalan menuju surga yang Allah janjikan kepada umatnya yang taat kepada-Nya.

Istri yang sholehah sangat penyayang, dia mencintai suaminya tanpa memandang dirinya sebagai apa atau memandang dirinya karena apa.Cintanya pun lahir tanpa di barengi dengan pemaksaan pada kehendak masing-masing.Sungguh luar biasa kekuatan imannya, dia selalu berusaha tuk membahagiakan suaminya.Cinta yang tulusnya pun tumbuh dengan batas-batas penghargaan bagi masing-masing.Pandai mensikapi suami, selalu memotivasinya, memperlihatkan wajah yang ceria ketika berhadapan dengan suami kecuali kalau suaminya lagi dalam keadaan kesuliatan. Dia pandai menghibur ketika suami lagi keadaan gelisah.
Perbedaan yang ada selalu di bikin indah dan menyengkan ketimbang menjadi suatu yang di perdebatkan.Dia percaya bahwa perbedaan itu suatu keniscayaan, tetapi yang tidak di perbolehkan adalah bercerai- berai dan pertengkaran. Saling pengertian akan perbedaan tidak akan tercipta.Jika perbedaan yang ada belum bisa di terima sewajarnya.Kalau masalah ini di pahami bersama oleh kedua belah pihak, keinginan untuk menjalin hubungan yang harmonis akan mudah untuk diwujudkan.
Selanjutnya - SANG ISTRI YANG PENGERTIAN

Minggu, 04 Oktober 2009

JANGAN SAKITI AKU

"Kamu tidak akan masuk ke surga, hingga kamu beriman. Kamu tidak akan beriman dengan secara sempurna, hingga kamu saling mencintai. Maukah kamu kutunjukan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai?. Biasakan mengucapkan salam di antara kamu apabila bertemu". (HR. Muslim)

Kehidupan memang banyak pilihan,berani hidup harus berani memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Dalam menentukan pilihan itu tentunya kita harus melihat konsekwensi yang akan di terima, besar kecilnya masalah tergantung cara kita mensikapinya. Dalam hal ini patut kita renungkan bersama konteks hadits di atas, tentang pribadi yang selalu menebar cinta kasih terhadap sesama. Salah satu yang ditawarkan dalam Islam adalah mengucapkan salam, yang berati mensosialisasikan dan mengamalkan sifat kesejahteraan, kedamaian, keselamatan, dan keharmonisan. Kalau kita aplikasikan dalam kehidupan kita secara benar arti kedamaian, mana mungkin akan ada orang yang menyakiti saudaranya. Karena seorang muslim yang bener percaya bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berkasih sayang. Tidak akan ada seorang pun yang hidupnya ingin di sakiti. Kalau ada seorang muslim yang hidupnya disakiti orang lain, maka bertawakal-lah kepada Allah. Artinya serahkanlah masalah itu kepada Allah, hanya Allah-lah yang membalasnya setimpal dengan kesalahannya. Do'a orang yang tersakiti atau di zalimi sungguh di dengar dan kabukan oleh Allah. Dalam hadits di sinyalir: "Tiga doa yang tidak ada keraguan padanya, pasti dikabulkan oleh Allah, pertama doa orang tua pada anaknya. Kedua, doa orang yang sedang bepergian (musafir). Ketiga, doa orang yang disakiti atau dizalimi".

Dalam Konteks Suami-Istri
Harapan yang berkeluarga pasti menginginkan kehidupan penuh cinta kasih dan selalu harmonis. nah, tentunya ini perlu saling memahami diri masing-masing, jangan banyak menuntut kepada pasangan untuk di mengerti, tapi berusahalah secara bersama-sama untuk saling memahami, mengerti dan memberikan kepercayaan kepada masing-masing tanpa ada kecurigaan didalamnya. Jauhilah prasangka jelek kepadanya, janganlah meggekang dan mendominasi tehadap pasangan. Biarkanlah pasangan kita mengekspresikan dirinya, tapi tentunya dalam batas-batas atau koridor yang wajar, tidak menyalahi aturan agama.

Kesuksesan keluarga biasanya ditunjang dari beberapa hal, diantaranya memberikan kepercayaan, saling keterbukaan, mengungkapkan masalah yang ada, sehingga masalah yang ada dapat di ketahui dan di mengerti oleh kedua belah pihak. Masalah yang ada semestinya disikapi dengan kepala dingin tanpa mengedepankan emosi. Kalau ada masalah yang timbul, cari akar masalahnya yang bisa membuat suasana tenang dan kondusif, tentunya harus di dialogkan bersama, baik jeleknya keluarga tergantung cara sikap suami dan istri dalam mengelola masalah keluarganya. Kesuksesan sebuah keluarga tegantung kecerdasan dalam mensikapi masalah. Suksesnya istri manakala dia pandai mensikapi dan memahami karakter suaminya, begitu juga suksesnya suami tergantung cara dia dalam mengayomi dan memahami perasaan istri sehingga sang istri akan selalu memuliakan suaminya. Indah bukan?

Buat Suami-Istri Supaya "Tahu dan di Mengerti"
dalam literatur kitab klasik diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Umair Al-Qurasy. Dia hidup pada abad ke-2H, seorang yang luas ilmunya dan pengetahuannya. Dia meriwayatkan dari Umamah binti Harits, seorang wanita yang kesohor memiliki kefasihan lisan, kehalusan bahasa, ketajaman berfikir dan kematangan intelektual. Dimana ia memberikan nasehat kepada putrinya, ketika telah berada diambang pintu pernikahan. Melalui untaian kata-kata yang sangat indah, yang layak di tulis dengan tinta emas.

Dari Abdul Malik bin Umair berkata: "Sewaktu Auf bin Muhallim Asy-Syaibani, salah seorang tokoh arab terpandang akan menikahkan putrinya Ummu Iyas denga Harits bin Amr Al-Kindi, setelah mempelai putri dihias dan di make up untuk diantarkan kecalon suaminya. Lalu ibunya, Umamah binti Harits menemuinya seraya berwasiat:
"Wahai putriku, seandainya suatu wasiat diabaikan karena memandang bahwa seseorang telah beradab atau karena seseorang telah berketurunan mulia niscaya engkau lebih utama untuk tidak diwasiatkan. Pesan ini di angkat sebagai peringatan bagi orang lalai, dan sebagai bahan renungan bagi orang yang berfikir".

"Wahai putriku, sekiranya wanita tidak membutuhkan suaminya lantaran kekayaan orang tuanya dan ketergantungan kepada orang tuanya, niscaya engkau adalah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa wanita diciptakan untuk laki-laki, begitupun sebaliknya, laki-laki diciptakan untuk wanita".

"Wahai putriku, beberapa saat lagi engkau akan meninggalkan tempat kelahiranmu, dan kampung halamanmu, menuju kenegeri yang asing bagimu. Untuk mendampingi temen hidup yang engkau belum mengenal sebelumnya. Kemudian engkau akan menjadi miliknya dan dia akan menjadi raja bagimu. Mengabdilah engkau kepadanya seperti pengabdian seorang budak, niscaya dia akan menjadi hamba sahaya bagimu".

"Wahai putriku, ambilah dariku sepuluh perkara, yang kan menjadi bekal dan peringatan bagimu:
Pertama dan kedua: "Dampingilah suamimu dengan penuh rasa puas, dan bekali dirimu dengan banyak mendengar dan mentaatinya. Karena sesunggunya dalam kepuasan ada ketenangan, sedangkan dengan banyak mendengar dan taat, akan mendatangkan keridhaan Tuhan".

Ketiga dan keempat: "Kuatkan kepekaanmu pada penciumannya dan cermatilah pandangan matanya. Sehingga tidak melihat keburukan sedikitpun padamu, dan ia tidak mencium darimu, melainkan bau wangi yang paling harum. Sesungguhnya celak merupakan sesuatu yang paling baik dari apa yang ada, sedangkan minyak kasturi adalah cairan yang paling harum semerbak, yang di dambakan oleh setiap orang".

Kelima dan keenam: "Perhatikan waktu-waktu makannya, dan tenagkanlah waktu tidurnya, karena sesungguhnya perihnya rasa lapar menjadi nafsu bergejolak dan ketidak nyamanan sewaktu tidur dapat mengundang amarahnya".

Ketujuh dan kedelapan: "Jalinkan dan sambunglah hubungan baik dengan kerabat dan keluarganya dan jagalah harta kekayaannya. Karena menjaga hartanya sebagai bukti penghargaan atas jerih payahnya. Sedangkan menjalin hubungan baik dengan kerabat dan keluarganya, termasuk mengurus suami yang paling baik".

Kesembilan dan kesepuluh: "Janganlah engkau buka rahasianya dan jangan engkau durhakai perintahnya. Karena jika engkau buka rahasianya, maka engkau tidak akan selamat dari penghianatannya. Dan jika engkau durhakai perintahnya, maka berarti engkau telah mendidihkan amarahnya dalam dadanya".

Selanjutnya wahai putriku....janganlah engkau menampakan kegembiraan, pada saat ia sedang di rundung duka, dan janganlah engkau bermuram durja saat ia sedang bahagia. Karena yang pertama merupakan kelalian, sedangkan yang kedua dapat mengerohkan suasana hatinya".
"Jadilah engkau orang yang sangat menggangungkan dirinya, maka ia akan menjadi orang yang memuliakan dirimu. dan jadilah engkau yang paling mendukungnya, niscaya engkau akan langgeng bersamanya".

Ketahuilah wahai putriku....engkau tidak akan pernah sampai pada apa yang engakau sukai darinya, hingga engkau dahulukan keinginannya dari pada keinginanmu, dan kehendaknya di atas kehendakmu, terhadap segala hal yang engkau sukai dan engkau benci. Semoga Allah menganugrahkan kebaikan kepadamu dan senantiasa menjagamu".

Kalau kita perhatiakan nasehat itu begitu luar biasa, sehingga menyentuh hati orang-orang yang punya keinginan membentuk keluarga yang harmonis yang selalu mengharap ridhoi-Nya.
sekarang kembali kepada diri kita masing-masing dalam masalah ini. Ketika punya komitmen dalam pernikahan, maka persiapkan ilmu yang memadai dan mental yang handal. Semoga apa yang kita harapkan bisa terwujud dan mendapatkan ketenagan dalam keluarga.







Selanjutnya - JANGAN SAKITI AKU

Senin, 28 September 2009

WANITA YANG PROGRESIF

"Sesungguhnya Aku ciptakan kalian dari golongan laki-laki dan perempuan" (Qs.Al-Hujurat:13)
Ketika kita melihat penggekangan yang di lakukan oleh kaum laki-laki terhadap kaum wanita, sungguh menyedihkan, apa yang salah dengan wanita, penulis pernah membaca suatu kisah yang sangat tragis, ketika seorang wanita di pasung oleh suaminya dengan alasan memalukan keluarga,wanita yang di pasung itu tiap hari selalu mengulangi kata-kata, "laki-laki memang egois dan tidak mengerti akan perasaan wanita". Ini menjadikan renungan bagi kita,tidak setiap laki-laki egois,banyak laki-laki yang memahami dan mengerti akan perasaan wanita,dan tidak sedikit yang menjadi pejuang hak-hak wanita.

Sebetulnya dalam konteks ayat diatas mengisyaratkan persamaan antara lelaki dan wanita. Perbedaan laki-laki dan wanita hanyalah bersifat biologis.
kalau dulu wanita sering di jadikan objek,sehingga sekolah tidak boleh tinggi,dengan alasan ujung-ujungnya kedapur juga. sekarang wanita banyak yang mengerti dan memahami tentang peran dia sebagai hamba Tuhan yang di berikan kelebihan sama seperti laki-laki.

Wanita dan Kepemimpinan
"Laki-laki adalah pelindung bagi kaum wanita".(Qs.An-Nisaa:34)
ayat ini dalam konteks keluarga, lelaki bertanggung jawab atas fisik dan keselamatan wanita, dan lelaki layak menjadi pemimpin keluarga.
Adapun dalam masalah institusional/kelembagaan wanita boleh berperan aktif dalam segala bidang asal punya kapasitas dan kompetensi dalam hal mengatur dan mengarahkan sesuai dengan ilmu dan skill yang dimilikinya. Berkaitan dengan peran wanita yang biasa di jadikan dalil bagi orang yang menentang kepemimpinan wanita atau orang-orang yang tidak setuju terhadap wanita yang aktif di lembaga-lembaga pemerintahan. Dengan alasan hadits: "Tidak akan sukses sebuah kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada wanita". nah, hadist ini perlu kita analisa dan di pahami dari segi historis supaya mendapatkan informasi yang memadai mengenai latar belakang kejadiaanya (asbabul wurud). Sebenarnya jauh sebelum hadits itu muncul, yakni pada masa dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi ke beberapa daerah dan negeri. Pada saat itu Nabi muhammad SAW pernah mengirim surat kepada pembesar negeri lain dengan maksud mengajak mereka untuk memeluk Islam. Di antara pembesar yang dikirim surat oleh Nabi adalah Raja Kisra di Persia. Kisah pengiriman surat tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

Rasulullah mengutus surat tersebut kepada pembesar Bahrain. Setelah tugas dilakukan sesuai dengan pesan dan di terima oleh pembesar Bahrain, kemudian pembesar Bahrain tersebut memberikan surat kepada Raja Kisra. Setelah membaca surat dari Nabi SAW, Raja Kisra menolak bahkan merobek-robek surat dari Nabi tersebut. Menurut riwayat, setelah peristiwa tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah bersabda: "Siapa yang sudah merobek-robek surat dari saya, akan di robek-robek(diri dan kerajaan) orang itu". (Fath Bari, hal.127-128).
Tidak lama kemudian, kerajaan Persia dilanda kekacauan dan berbagai pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga dekat Raja. Hingga setelah terjadi bunuh-membunuh dalam rangka suksesi kepemimpinan, diangkatlah seorang perempuan yang bernama "Buwaran binti Syairawaih bin Kisra (cucu Kisra yang pernah dikirin surat oleh Nabi) sebagai ratu (Kisra) di Persia. Hal itu, karena ayah Bahrawan meninggal dunia dan anak lak-lakinya (saudara Bahrawan) telah mati terbunuh. Karenanya, Buwaran kemudian dinobatkan menjadi ratu. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 9 H.

Nah, selain itu kita lihat dari sisi sejarah sosialnya bangsa tersebut, bahwa menurut tradisi atau adat istiadat masyarakat yang berlangsung di Persia masa itu. Jabatan kepala negara (Raja) biasanya di pegang oleh kaum laki-laki. Sedangkan yang terjadi tahun 9H. tersebut menyalahi tradisi itu. Sebab yang di angkat sebagai Raja adalah perempuan. Masalahnya pada waktu itu, derajat kaum perempuan di mata masyarakata berada di bawah derajat kaum laki-laki. Perempuan sama sekali tidak dipercaya dan di tidak di perkenankan mengurus kepentingan masyarakat umum (publik), terlebih dalam maslah kenegaraan. Keadaan seperti itu tidak hanya terjadi di persia saja, tetapi juga di seluruh Jazirah Arab. Dalam kondisi kerajaan Persia dan keadaan sosial seperti itu, wajar Nabi Muhammad SAW yang memiliki kearifan tinggi, melontarkan hadits bahwa: "Bahwa bangsa yang menyerahkan masalah-masalah (kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan tidak akan sukses atau sejahtera".
Bagaimana mungkin akan sukses jika orang yang memimpin itu adalah orang yang sama sekali tidak di hargai oleh masyarakat yang dipimpinnya. Salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah memiliki karishmatik atau kewibawaan, sedangkan pada saat itu perempuan sama sekali tidak memiliki kewibawaan untuk menjadi pemimpin. Andaikata seorang perempuan telah memiliki kwalifikasi dan sangat di hormati oleh masyarakat, sangat mungkin sekali Nabi yang sangat bijaksana akan menyatakan kebolehan kepemimpinan politik kepada perempuan.
Selanjutnya - WANITA YANG PROGRESIF

Jumat, 25 September 2009

MANUSIA ADALAH MANUSIA

"Jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (Qs.Al-An'am:116)

Apa yang kita lakukan di dunia ini hanyalah untuk mencari sesuatu yang bisa membuat Allah Ridha terhadap kita. Berbagai cara kita lakukan untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kadang-kadang dalam berusaha dan berjuang itu, kita berhadapan dengan berbagai karakteristik manusia,ada yang simpati,ada yang biasa-biasa,bahkan yang membenci juga ada. Tapi kita harus sadar dan mengerti tentang kehidupan yang sangat kompleks ini. Selagi sikap kita tidak merugikan orang lain kita bebas melakukan apa saja atas dasar ilmu dan keilmuan yang harus di pertanggung-jawabkan nanti di hadapan Allah.

Kita perlu ingat bahwa manusia tersifati dengan sifat salah dan lupa. (Al-insan mahalulkhata wa nisyan). Ini perlu kita tahu dan di mengerti supaya kita pandai dan bijak dalam mensikapi problematika hidup. Ketika kita melakukan kesalahan segeralah beristigfar (meminta ampun kepada Allah). Kita adalah mausia yang tidak luput dari dosa. Dalam hadits di sinyalir, "setiap manusia pernah melakukan kesalahan,tetapi sebaik-baiknya yang berbuat kesalahan itu, mereka yang bertoubat(berenti dari melakukan kesalahan, kembali kepada Allah)".

Optimis dan visioner dalam memandang hidup cermin pribadi yang bijak yang serlalu menggunakan daya nalar ilmiyah (edukatif people). Pesimis dan naif (bersifat kekanak-kanakan) cermin pribadi yang tidak pandai mensyukuri potensi diri yang Allah telah berikan. Manusia yang pandai, optimis, bersikap kasih sayang, selalu mementingkan kepentingan umum, akan merasakan kebahagian dalam dirinya, dan hatinya akan selalu tenang. Jagalah sikap dan wibawa sebagai manusia, perhatikan amal perbuatan kita, karena setiap apa yang kita lakukan akan berimbas terhadap diri kita.

Ketika penulis bertemu dengan sang guru. Prof.DR.Siddi Al-Manaa seorang ulama asal Darfur,lulusan Ummul Qura dia adalah rektor Institute of RAK (Ras-alkhaimah) yang kebetulan dia baru pulang dari Abu Dhabi. Penulis datang kerumahnya di Kalakla,setiba di rumahnya penulis di peluk seperti ke anaknya sendiri. Dengan gaya seorang ulama besar kaliber Internasional dia memberikan nasihat sambil menatap tajam kepadaku. Penulis dengan rasa hormat dan kagum sama beliau,betapa tidak beliaulah yang telah memberikan beasiswa di Abu Dhabi dan di Sudan kepada penulis.Beberapa nasehat yang penulis catat sebagai berikut."Belajarlah yang giat,buktikan bahwa kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Do'akan selalu orang tuamu,Hati-hatilah terhadap manusia,jangan asal bergaul kadang-kadang manusia itu bisa menyesatkan kita, pilihlah temen yang bisa bikin kita maju,optimis,selalu bersyukur terhadap ni'mat Allah".

Nah, ketika penulis merenungkan apa yang beliau katakan, ada kata-kata beliau yang selalu terngiang, "hati-hatilah terhadap manusia, jangan asal bergaul kadang-kadang manusia itu bisa menyesatkan kita". ini salah satu inspirasi judul tulisan "Manusia Adalah Manusia".
Untuk bahan renungan kita bersama, supaya kita tahu dan mengerti tentang bagaimana manusia itu. Dikisahkan bahwa seorang ayah bersama putranya pergi kepasar untuk menjual keledai. Keledai itu dituntun sama anaknya didepan, sementara ayahnya berjalan di belakang. Sekolompok remaja yang berpapasan dengan mereka menertawai dan berkata: "Mengapa kalian berjalan kaki, padahal keledai yang kalian tuntun itu bisa dinaiki?". Sang ayah lalu naik keatas punggung keledai itu, sementara anaknya tetapa menuntun keledai itu didepan.

Ketika mereka melewati sebuah perkampungan ada sekolompok wanita yang ada dipinggir jalan. Mereka memaki sang ayah sebagai pria yang hanya mau seenaknya sendiri. Dia membiarkan anaknya berjalan kaki menuntun keledai sementara dia enak-enakan duduk diatas punggung keledai itu. Mendengar makian itu, sang ayah pun menyuruh anaknya untuk naik bersamanya.
Ketika sampai disebuah desa, mereka di cerca oleh penduduk desa sebagai orang-orang yang tidak punya kasihan terhadap binatang. mereka menuggangi keledai kurus seolah-olah mereka menyiksa keledai itu dengan menaikinya berdua. Karena merasa bersalah, dan membenarkan apa yang di katakan oleh penduduk desa itu, mereka pun turun dan mengikat kaki keledai itu dan memikulnya berdua. Mereka kemudian meneruskan perjalanannya.

Sampailah mereka di sebuah jembatan yang di bawahnya ada sungai yang mengalir deras, sekolompok anak kecil yang sedang bermain dipinggir jembatan, melihat suatu pemandangan yang ganjil itu, anak-anak kecil itu meneriaki kedua orang itu sambil bersorak- sorai. Teriakan itu membuat keledai terkejut, ketakuatan dan memberontak hingga tali yang mengikat kakinya itu putus. Keledai itu pun jatuh kedalam sungai dan hilang terbawa arus. Akhirnya sang ayah berkata: " Karena mengikuti kata semua orang, kita tidak dapat melegakan siapa pun, bahkan diri kita sendiri pun tidak".
Itulah akibatnya kalau kita tidak punya prinsip dalam hidup. Tegas dan beranilah dalam sikap, berhati-hatilah dalam melangkah. Sekecil apapu masalah, jangan pernah mengganggap enteng atau sepele, karena dari yang kecil pelan-pelan, cepat atau lambat akan menjadi besar, bukan?


Selanjutnya - MANUSIA ADALAH MANUSIA

MEMAHAMI KEPRIBADIAN ORANG LAIN

إنما المؤمنون إخوة فإصلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون
"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" (Qs. AlHujraat:10).
Aktifitas kita sehari-hari dalam berusaha memperjuangkan hidup, tidak lepas dari interaksi dengan sesama manusia. Karena kita tahu bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan bersosialisasi (homo sapiens). Dalam berinteraksi dengan masyarakat perlu ditanamkan sikap tenggang rasa, toleransi, dan kebersamaan, agar meraih hidup yang harmonis.
Kebersamaan dalam hubungan dengan sesama teman adalah sesuatu hal yang bisa memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Anda. Indahnya kebersamaan bisa dilakukan dengan cara:

1.Memahami kepribadian orang lain.
Tiap individu mempunyai kepribadian yang unik. Pelajarilah kekuatan dan kelemahan setiap orang. Dengan mempelajari kepribadian orang, Anda lebih bisa beradaptasi dengan orang lain. Sikap orang kepada Anda diklasifikasikan menjadi tiga: Pertama, ada yang menaruh suka atau simpati, bahkan mengidolakan Anda. Kedua, sikap biasa-biasa, medium dalam arti tidak terlalu suka dan tidak menaruh benci kepada Anda. Ketiga, sikap yang menaruh rasa tidak suka. Orang yang seperti ini akan selalu mencari kejelekan-kejelekan Anda. Tapi jangan sampai Anda membalas kejelekannya. Dalam konsepi Al-Qur'an dijelaskan: "Tolaklah (perbuatan buruk mereka) dengan yang lebih baik". (Qs. Al-mu'minuun: 96).
Jangan berharap terlalu banyak kepada teman, sehingga Anda tidak kecewa bila teman Anda memberi reaksi yang tidak mengenakan.

2. Komunikasi Saling terbuka merupakan kunci hubungan yang mulus.
Jangan berharap teman Anda dapat membaca pikiran Anda, tanpa Anda ungkapkan isi hati Anda. Namun arti komunikasi bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengar. Biarkan dia mengungkapkan isi hatinya. Komunikasi yang baik adalah bila Anda tahu kapan harus bicara, kapan harus jadi pendengar.

3. Dukungan Anda perlu dukungan baik dari keluarga, teman, dan sahabat. Carilah orang yang loyal dan obyektif, yang bisa mengerti masalah anda, yang bisa diajak diskusi atau sharing sehingga masalah yang anda hadapi ada solusinya.

4. Humor Dengan humor hubungan dengan teman Anda akan lebih berwarna.
Anda dapat memakai humor disaat Anda memang ingin tertawa, atau sebagai penyelamat suasana.

5. Pemaaf
Maka maafkanlah mereka, mintalah ampunan bagi mereka dan bermusyawarohlah dengan mereka dalam urusan itu. (Qs. Al-imron: 159)
Memaafkan berarti tidak membesar-besarkan kesalahan-kesalahan kecil. Jika Anda marah cari apa yang menekan Anda, dan membuat Anda menjadi emosional. Jangan sekali-kali melakukan apapun ketika Anda marah. "Marah itu datangnya dari syetan, apabila marah salah seorang dari kamu, maka berwudlulah". (Al-Hadits)

6. Keseimbangan
Anda tahu kapan memberi kapan menerima, jangan boros. "Sesungguhnya pemborosan itu saudarnya syetan". (Qs. Al_Isra: 27) Komposisi berapa yang Anda berikan dan berapa yang diberikan teman Anda tidak selalu seimbang, kadang Anda memberi lebih, kadang teman anda yang lebih banyak memberi.Take and give.
Untuk lebih memperkuat tali persaudaraan, dan harmonisasi antar relasi, antar organisasi, atau kelompok. Perlu memahami kiat dasar dalam membina hubungan:
1. Affection (kasih sayang)
"Muhammad adalah utusan Allah dan orang yang bersamanya tegas terhadap orang kafir, dan berkasih sayang terhadap sesama". (Qs. Al-Fath: 29)
Apapun yang Anda lakukan terhadap orang lain, didasari oleh perasaan dan sikap tanpa pamrih. Pernahkah Anda memperlakukan hubungan seperti hitung dagang, menyayangi seseorang bila dia bisa memenuhi kebutuhan Anda, dan tidak memperdulikannya jika tidak mendapatkan apa-apa darinya. Hubungan seperti ini akan menyebabkan konflik dan sakit hati, berhati-hatilah dalam mencari teman agar tidak kecewa di kemudian hari.
2. Appreciation (penghargaan)
Anda menghargai orang lain sebagai mana adanya dia. Mencintainya sebagaimana Anda mencintai diri Anda sendiri. Anda tidak memaksanya untuk mengikuti keinginan Anda. Ingatlah pemaksaan dan dominasi bukanlah cinta.
3. Acknowledgment (pengakuan)
Anda mengakui harapan dan perasaan orang lain , saling pengertian, saling menerima, sehingga melahirkan hubungan yang ideal dan harmonis. Disini yang di butuhkan adalah empati atau memahami perasaan orang lain, bukan simpati atau merasa kasihan kepadanya.
4. Acceptance (penerimaan)
Anda memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi dirinya sendiri dan berkembang. Dia bukan milik Anda, kalau Anda menyayangi seseorang, Anda tidak boleh mengikatnya.
5. Action (tindakan)
Anda harus berusaha agar hubungan Anda menjadi harmonis. Komunikasi adalah alat penting untuk suatu hubungan yang sehat. Ungkapkan apa keinginan Anda, open system problem solving. Jangan berharap orang lain dapat membaca pikiran Anda. Anda juga harus tahu kapan harus bicara, kapan harus diam.
6. Absolute (kemutlakan)
Anda memiliki komitmen mutlak terhadap suatu hubungan, syarat terakir ini di perlukan dalam ikatan perkawinan. "Maka dengan rahmat Allah, bersikaplah lembut terhadap mereka, dan jika kamu bersikap keras hati, maka orang-orang di sekelilingmu akan mejauhi". (Qs. Ali-imron:159) Dengan memahami konsep tentang relasi dalam berinteraksi dengan sosial, baik itu ormas, partai politik, dan apaun namanya harus mengedepankan sikap toleransi, moderat, dan kasih sayang, agar tejadi hubungan harmonisasi yang handal, ideal serta profesional. "Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil". ( Qs. Al-Maaidah: 8) "Jadilah kalian hamba- hamba Allah yang bersaudara". (HR. Muslim)
"Wallahu a'lam bishowab"

oleh Asgaris Thea
Selanjutnya - MEMAHAMI KEPRIBADIAN ORANG LAIN

Kamis, 18 Juni 2009

DISKUSI YANG SEHAT

Prolog
Diskusi yang kita harapakan bisa menemukan kebenaran. Sekalipun penafsiran manusia terhadapnya masih bersifat relatif dan subjektif. Kebenaran yang absolut hanya milik Tuhan. Dalam konsepsi al-Qur’an disebutkan: “Kebenaran datangnya dari Tuhanmu, maka janganlah kalian termasuk orang-orang yang ragu akan kebenaran itu”. [QS. Ali-Imran:60]
Dalam membahas suatu masalah kita harus bersikap bijak, dalam diskusi terjadi sebuah proses tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas. Jangan memaksakan kehendak sendiri, harus legowo,mau mendengar pendapat orang lain, dan menerima pendapat orang lain yang disepakati kebenarannya.
Jadi, apa yang di lakukan oleh manusia dalam diskusi hanyalah untuk menyamakan pendapat,mencari kemufakatan,menyatukan persepsi.

Devinisi
Diskusi disebut juga tukar menukar pikiran untuk memecahkan suatu masalah (problem solving). Sedangkan menurut Oxfort Dictionary, diskusi atau “discuss” disebutkan bahwa, pembicaraan yang dilakukan dengan tujuan mencapai kesepakatan dan keputusan. Selain itu diskusi dapat juga diartikan sebagai pembicaraan atau menulis secara detail mengenai topik tertentu.

Jenis-Jenis Diskusi
1.Prasaran
a.Penyajian bahan pokok oleh satu atau beberapa orang pembicara dengan prasaran tertulis atau makalah.
b.Tanggapan terhadap bahan pokok oleh pembicara lain atau penyanggah.
c.Tanggapan peserta diskusi atau forum terhadap bahan pokok.

2.Ceramah a.Seorang penceramah menguraikan bahan pokok. b.Tanggapan atau sanggahan, pertanyaan dari forum untuk meminta penjelasan yang lebih akurat.

3.Diskusipanel
a.Bahan pokok disajikan oleh beberapa panelis, panelis meninjau masalah dari segi tertentu.
b.Tanggapan, sanggahan atau pertanyaan dari forum untuk meminta penjelasan dari panelis.

4.Brainstorming
a.bahan pokok yang dipersiapakan ditawarkan kepada peseta diskusi oleh pimpinan
b.Setiap peserta diminta pendapat atau gagasannya, sebanyak mungkin orang diajak bicara dan setiap ide dicatat.
c.Berbagai ide disimpulkan dan ditarik benang merahnya, kesimpulan ini kemudian dijadikan kerangka pembicaraan dan pembicaraan lebih lanjut.
Persyaratan Diskusi

1.Cara komunikasi
a.Tata tertib tidak ketat
b.Setiap orang diberi kesempatan untuk berbicara
c.Kesediaan untuk kompromi
2.Etika Peserta Diskusi
a.Pengertian yang menyeluruh tentang pokok pembicaraan
b.Sanggup berpikir bebes da lugas
c.Pandai mendengar, menjabarkan dan menganalisa
d.Mau menerima pendapat orang lain yang benar
e.Pandai bertanya dan menolak secara halus pendapat orang lain

3.Etika Pemimpin Diskusi
a.Bersikap hati-hati, cerdas dan tanggap
b.Pandai menyimpulkan
c.Sikap tidak memihak (netral)

Konklusi
Dengan memahami konsep diskusi,kita bisa memahami bagaimana bisa mensikapi masalah dengan tidak mengedepankan sikap egoisme. Kita bisa belajar menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Menghormati pendapat yang berbeda dan bijak dalam mensikapinya.
Selanjutnya - DISKUSI YANG SEHAT

Senin, 25 Mei 2009

REMAJA: MENERIMA KENYATAAN HIDUP

Kehidupan memang sudah ada yang mengatur,tinggal kitanya yang harus menjalani dengan penuh kesabaran.”Allah tidak akan merubah nasib seseorang,kecuali orang tersebut yang mau merubah nasibnya sendiri”.Begitulah kata al-Qur’an.

Sejak masa kanak-kanak saya sering mendengar mami bilang.”Jadi anak itu harus saleh,taat terhadap perintah Allah,tidak boleh melawan kepada orang tua,hormatilah orang yang lebih tua”.Kata-kata itu yang yang selalu terngiang di telinga saya,mungkin karena mamiku mempunyai harapan besar kepada anak laki-lakinya,menjadi anak yang saleh yang bisa di banggakan pada masa yang akan datang.

Saya masih teringat ketika lulus SD mami memanggil saya,kemudian dia menyuruh saya duduk di depannya,sambil menatap saya dengan penuh kasih sayang.Nak….dengar kata-kata mami,Kakekmu itu kan orang yang mengerti agama,panutan masyarakat,mami ingin Rendi itu seperti kakek biar menjadi orang yang berguna yang selalu di do’akan sama orang karena kebaikanmu.

Sekarang pergilah ke kamar bereskan pakian ,besok kita berangkat ke tebu ireng untuk daftar sekolah.Kok ke tebu ireng mi… jauh banget memang di sini tidak ada sekolah? Ada …tapi mami mau menitipkan Rendi sama Pak kyai di sana. Dalam benak saya masih tergambar pada saat itu air mata mami mengalir membasahi pipinya,saya jadi sedih melihatnya.Mi….ada apa kok menangis tanya saya penasaran, mami hanya tersenyum melihat ke arah saya. Nak…kamu masih kecil jadi tidak akan mengerti masalah yang mami hadapi.

Perjalan waktu memang tidak terasa.”Setiap kejadian Kami putarkan di antara manusia”. Begitulah kata al-Qur’an. Selepas SMP saya di titipkan lagi kepada pimpinan pesantren,di kota yang sama untuk belajar sambil nyantri, saya jadi terharu sama mami menjadi single parent membesarkan anak laki-lakinya yang semata wayang. Setiap dua bulan sekali mami datang kesekolah untuk melihat keadaan saya, begitu mulia hatinya, saya bangga punya mami yang sangat menyayangku. ”Ya Rabbi….!!! Kasihanilah mamiku,dia sudah lama di tinggal mati sama ayah, balaslah jasa-jasanya selama ini, yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang”. Itulah do’a saya setiap kali melihat wajahnya. Ketika mengingat jasa mami, saya jadi teringat lagu ketika saya masih SD yang di ajarkan sama ibu guru yang berbunyi. “Kasih ibu kepada beta,tak terhingga sepanjang masa,hanya memberi tak harap kembali,bagai sang surya menyinari dunia”.Subhanallah….Lagu itu benar-benar menjadi inspirasi bagi saya bagaimana berbakti kepada orang tuaku dengan penuh keikhlasan.
Di keheningan malam saya selalu bangun untuk shalat dan berdo’a. “Ya Tuhanku…!!! Ampunilah aku dan kedua orang tuaku,dan kasihanilah keduanya,sebagaimana keduanya mengasihiku sejak kecil”. Saya berjanji pada-Mu ya Rabb…!!! Akan selalu mendo’akan orang tuaku selama saya hidup.

Pada suatu hari,mami tiba-tiba datang kesekolah dan mengajak saya menemui pimpinan pesantren untuk membicarakan suatu hal yang di anggap penting. Sesudah Pak Kyai Sapta menyambut kami dan mempersilahkan untuk duduk,mami memegang tangan saya dan berkata. Duduknya di sini nak…kata mami,menyuruh saya supaya duduk di sampingnya. Bagaimana kabar ibu? Kata Pak Kyai memulai pembicaraan. Alhamdulillah sehat Pak Kyai. Kata mami menjawab pertanyaan Pak Kyai. Begini pak Kyai,maksud kedatangan kami kesini itu untuk membicarakan anak saya,sudah kelihatan sama saya sekarang dia dewasa dalam berpikir,tolong Pak Kyai,nasihatilah dia sebelum meninggalkan pesantren ini.

Rendi bagaimana perasaanmu selama di pesantren? Kata Pak Kyai bertanya kepadaku. Selama saya dalam bimbingan Pak Kyai di pesantren Alhamdulillah banyak ilmu agama yang saya dapatkan,saya lebih tenang dan mengerti bagaimana bebuat baik sama orang tua.Mmm….Syukurlah kalau begitu,kata Pak Kyai sambil tersenyum. Sebagai pimpinan di pesantren ini,Pak Kyai berpesan sama Rendi, “berhati-hatilah dalam bergaul sebab,pergaulan sangat potensial sekali dalam membentuk kepribadianmu.Saya pernah jadi kamu,tapi kamu belum pernah jadi saya,artinya Pak Kyai pernah mengalami dan merasakan bagaimana perasaan seusia kamu,kalau tidak bisa membawa diri,kita akan terbawa arus dalam pergaulan jelek yang merusak akhlak,dan kamu belum mengalami dan merasakan kekhawatiran Pak Kyai dan orang tuamu selama ini”. Tapi insya Allah perjalan waktu yang akan menjawabnya,Pak Kyai yakin Rendi bisa menjaga nama baik pesantren dan juga keluargamu.Terima kasih Pak Kyai atas kepercayaan dan nasehatnya kepada anak saya,kata mami sambil menangis,saya jadi sedih Pak Kyai anak saya ini belum pernah melihat wajah ayahnya. Memangnya kemana? kata Pak Kyai. Begini Pak Kyai kata mami meneruskan pembicarannya.Semenjak enam bulan dalam kandungan ayahnya meninggal dunia,saya kasihan sama dia,tadi pas mendengar kata-kata nasehat dari Pak Kyai ke Rendi,saya jadi teringat ke ayahnya,kalau sekiranya sekarang masih hidup, mungkin dia merasa bangga punya anak seperti Rendi yang taat terhadap ajaran agamanya. Oh…begitu yah,kata Pak Kyai sambil melihat kearah saya. Mendengar kata-kata Pak Kyai dan mamiku saya jadi terharu banget,hingga dalam hati saya mengadu kepada Allah. ”Ya Allah…!!! Kenapa nasib saya seperti ini?. Saya yakin Engkau tidak akan menzalimiku,Ya Allah..!!! Berikanlah hikmah di balik semua ini,dan kuatkanlah jiwa ini dalam menjalani kehidupan”.

Rendi,kamu adalah anak yang beruntung,kata Pak Kyai.Punya mami yang baik,hatinya mulia.Iya Pak Kyai.Jawab saya pendek.”Berbaktilah kepada ibumu”.Kata Pak Kyai meneruskan omongannya,ingat sabda Rasulullah,ketika seorang sahabat bertanya kepada beliau.Ya Rasulullah siapa yang pertama harus saya pergauli dengan baik? Rasulullah menjawab: “Ibumu…kemudian siapa lagi? Ibumu…kemudian siapa lagi? Ibumu…kemudian bapakmu”.Rendi kamu harus sayang sama ibumu,harus mentaatinya selama dalam ketaatan kepada Allah.Sambil menatap mata saya Pak Kyai meneruskan bicaranya,bapakmu kan sudah meninggal,jadi do’akanlah selalu.Iya Pak Kyai.Jawab saya dengan suara gemetar.

Kalau kamu ingin melakukan urusan mintalah restu dari ibumu,sebab ridha Allah tergantung ridhanya orang tua,murka Allah tergantung murkanya orang tua.Begitulah kata-kata Pak Kyai menegaskan.Tanpa di sadari air mata saya mengalir membasahi pipi,mami yang dari tadi mendengar kata-kata Pak Kyai memegang tangan saya sambil berkata, “Berjiwa besarlah nak…!!! Kamu kan anak laki-laki. Iya mi… Kata saya dengan suara yang hampir tidak kedengaran saking pelannya. Mami dan Pak Kyai rupanya mengerti dan memahami apa yang saya rasakan selama ini. Sekalipun mami tidak bilang saya yatim dalam kandungan,tapi saya banyak mendengar dari tetangga dan kerabat-kerabat ayah yang banyak bercerita tentang nasib saya. Ketika mami pindah ke Jakarta saya baru semester empat di Institut Agama yang ada di Bandung. Pada akhir semester empat saya menyusul mami ke Jakarta,di rumah yang baru ini,saya menemukan suasana yang baru dalam hidupku.
Saya memang tidak menyangka,bahwa mami sudah menjodohkan saya dengan seorang wanita yang background pendidikan umum. Pada hari minggu kira-kira jam sembilan pagi,saya lihat dari jendela kamar tiba-tiba ada yang datang suami istri dan satu orang anak perempuan yang penampilannya cukup mempesona, laki-laki yang melihatnya pasti akan terpikat hatinya.Saya juga harus jujur dalam hati bahwa dia sangat angun di mata saya.Keluarga ini siapa ya?.Begitu kata saya dalam hati.

Dari luar kamar mami memanggil saya,Rendi…Rendi…keluar temanin mami ada tamu tuh,tolong bikinin dulu air teh manis ya…!!! Nanti bawain keruang tamu.Iya mi…jawab saya pendek.Rendi duduk sebentar mami ingin bicara,ada apa mi?Begini…selama ini mami belum bercerita punya teman bisnis di Jakarta,alhamdulillah hari ini orangnya datang,ini yang di depan Rendi namanya Bapak H. Farda. dan istrinya ibu Hj. Divani.Oh iya, ini anaknya yang ke dua namanya Lusita Farda,dia baru masuk kuliah anaknya baik. Kata mamiku menjelaskan kepada saya. Pak Farda, ini anak saya namanya Rendi yang saya sering bicarakan denga Ibu Hj. Divani,Iya…Saya sering mendengar namanya dari istriku,ternyata sekarang ketemu”,Kata pak Farda.
Sebetulnya saya sering di ajak mami kerumah bapak tapi….Tapi apa? Tanya pak Farda sambil melihat kearah anaknya. Belum ada waktu Pak. Jawab saya.Oh… begitu ya,tidak apa-apa, lain kali saja kata pak Farda sambil tersenyum.
Pada hari sabtu jam tujuh mami ngasih nomor handphone Lusita dia bilang,Rendi tolong bilangin ya sama Lusita mami nanti mau datang jam sepuluh siang,kok harus saya yang bilang sama Lusta,Tanya saya. Mami saja biar nyambung, kan sama-sama perempuan,Sudah Rendi saja yang bicara biar tanbah dekat gitu lho….Saya hanya bisa diam, tidak membalas kata-kata mami. Akhirnya saya nelpon Lusita,rupanya Lusita sudah tau no.handphone saya dari mami,pas saya bilang hallo… dia bilang,Ini kak Rendi ya?. Iya, jawab saya.Tahu no.handphone saya dari siapa? Kata saya bertanya. Ada aja...Kata dia sedikit manja.Oh iya… Lusita kata mami nanti jam sepuluh pagi mau datang kerumah,tolong bilangin ya sama bapak dan Ibu.Iya kak Rendi saya tunggu kedatangannya.

Pada hari itu juga jam delapan pagi datang Ustadz Baiquni penceramah di Majelis Ta’lim Jakarta,berserta rombongan di antaranya lima belas orang ibu-ibu,sepuluh orang bapak-bapak. Jam Sembilan rombonganku sudah siap berangkat kerumah Bapak Farda,sesampai di rumahnya keluarga Pak Farda begitu antusias menyambut kedantangan rombonganku.Ya Rabbi…Saya baru tau dari Ustadz Baiquni bahwa kedatangan rombonganku itu dalam rangka acara tunangan saya, saya tidak habis pikir…dalam hati,tapi itulah kenyataan yang saya hadapi.Saya melamar Lusita di wakili oleh Pak Ustadz Baiquni dari pihak Lusita di wakili oleh Ustadz Hamdan.

Seminggu sesudah acara tunangan saya janjian dengan Lusita di rumahnya,untuk membuat komitmen.Sesudah duduk di ruang tamu,saya mulai melontarkan pertanyaan kepadanya.Bagaimana menurut Lusita tentang tunangan kita ini…?Kalau menurut kak Rendi Bagaimana…?Kok balik bertanya,kata saya.Kan kak Rendi laki-laki, jadi berilah saya pengertian bagaimana baiknya.Oh…Begitu ya.Lusita… percaya gak sama kak Rendi selama ini?Iya kak,kata dia sambil tesenyum menatap kearah saya.Sebetulnya saya banyak dengar dari mami tentang kepribadian lusita,orangnya baik,taat lagi sama orang tua,saya salut sama lusita.Ah....kak Rendi bisa aja,kata dia sambil memalingkan mukanya karena malu.Kak Rendi…saya orang yang tidak begitu mengerti masalah agama,karena saya kan pendidikannya umum, saya sangat mengharapkan seorang suami yang bisa membimbing dalam hidup ini,harapan saya itu ada pada kak Rendi. Mendengar kata-kata itu saya jadi termotivasi untuk meneruskan kuliah keluar negeri.Sayang…Kak Rendi ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri,bagaimana menurut Lusita?Kata saya meminta pendapat dia.Kalau saya sangat mendukung keinginan kak Rendi,karena itu kan untuk kebaikan kita semua,iya kan? Betul, besok kita bicarakan dengan bapak dan ibu,mudah-mudahan mereka memberikan izin kepada kak Rendi.Sesudah berbincang-bincang dengan Lusita saya minta izin untuk pulang,sesampainya di rumah,saya langung menemui mami. Kebetulan mami lagi duduk di halaman rumah.Mi…Rendi mau bicara.Ada apa?. Kata mami menatap saya,begini mi…kata saya pelan.Besok mau memusyawarahkan tentang pemberangkatan kuliah Rendi keluar negeri di rumahnya keluarga pak Farda,kalau bisa mami hadir,insya Allah…mami akan berangkat besok dengan Rendi.Besoknya jam delapan pagi saya dengan mami berangkat ke rumah keluarga pak Farda,setibanya di rumah rupanya pak Farda dengan istrinya sudah tahu kedatanganku,mungkin sebelumnya Lusita ngasih tahu ke orang tuanya.Begini Pak Farda maksud kedatangan saya ini,mahu memusyawarahkan tentang keinginan Rendi mahu berangkat kuliah ke luar negeri,kata mami menjelaskan.Kalau saya degan keluarga insya Allah mendukung,kata Pak Farda menaggapi kata-kata mami.Kalau begitu kita persiapkan pemberangkatannya,kata mamiku.Rendi kapan berangkatnya?Kata Ibu Hj. Divani istrinya Pak Farda,bertanya kepadaku. Insya Allah hari Jum’at bu...

Tidak terasa hari jum’at sudah tiba kira-kira jam satu siang saya,mami dan keluarga pak Farda sudah berangkat ke bandara Cengkareng.Tiba di Cengkareng sambil menunggu pesawat saya sempat berpesan kepada Lusita,sayang…jaga diri baik-baik ya,percayalah sama kak Rendi,insya Allah akan selalu setia sama Lusita.Kata saya memberikan harapan.Iya Lusita percaya sama Kak Rendi
Karena waktu berangkat pesawat telah tiba,akhirnya saya melangkah menuju pesawat,tiba-tiba Lusita mengejar saya.Tunggu kak..!!!Jangan lupa ya,sesudah sampai ketempat tujuan hubungi saya.Insya Allah,jangan khawatir sayang.Kak Rendi…Hati-hati ya,Selamat berjuang…!!! semoga sukses apa yang di cita-citakan sama kak Rendi,Lusita di sini akan selalu mendo’akanmu siang dan malam,percayalah Lusita akan selalu setia menunggumu.Bye…bye…ma’assalamah
Selanjutnya - REMAJA: MENERIMA KENYATAAN HIDUP

Senin, 18 Mei 2009

INTERMEZZO EUY: PESANTREN SETAN VS NERAKA

Alkisah,di suatu kampung terdapat pondok pesantren yang sangat megah,tapi anehnya pesantren itu tidak boleh menerima santrinya lebih dari dua,satu orang laki-laki (santriwan),dan satu orang perempuan (santriwati).Itu merupakan aturan yang telah di tetapkan oleh pihak pesantren.Pada waktu pembukan ajaran baru datanglah seorang kakek dari kota metropolitan dengan membawa anak laki-lakinya, setibanya di pondok pesantren,dia langsung di sambut oleh pak Kyai.Kemudian pak Kyai bertanya kepadanya: "Apa keinginan Bapak memasukan anak laki-laki ke pesantren ini"?.Kakek itu menjawab: "Saya ingin anak laki-laki ini menjadi ulama,yang selalu di hormati,ahli dalam berpidato,dan selalu mendo'akan saya".Jangan khawatir saya akan memenuhi keinginan bapak,tapi tolong bapak jangan kesini sebelum anak bapak berhasil.Begitulah kata Pak Kyai menegaskan.Kakek itu menjawab: "Baiklah Pak Kyai saya berjanji tidak akan datang kesini,sebelum anak saya berhasil.Saya mohon sama Pak Kyai anak saya tidak boleh bergaul dengan siapa pun".

Pada hari itu juga datang seorang Bapak dengan membawa anak perempuannya.Kemudian Pak Kyai bertanya kepada Bapak itu: "Apa keinginan Bapak memasukan anak perempuan Bapak ke pesantren ini"?.Bapak itu menjawab: "Saya ingin anak perempuan ini menjadi seorang wanita yang mengerti agama,dan selalu mendo'akan saya,oh iya…hampir saya lupa Pak Kyai tolong anak perempuan saya tidak boleh bergaul dengan laki-laki".Kemudian Pak Kyai memberikan harapan: "Jangan takut saya benar-benar akan mendidiknya menjadi anak perempuan yang betul-betul mengerti agama".

Hari berganti hari,bulan berganti bulan,tahun berganti tahun begitulah hukum alam.Sesudah sekian tahun belajar di pondok pesantren,Pak Kyai memanggil kedua anak didiknya itu,kemudian dia berkata: "Kalian sudah lama tinggal di pondok pesantren ini,Pak Kyai yakin kalian berdua akan bisa memberikan yang terbaik bagi diri,keluarga dan juga masyarakat".Kemudian Pak Kyai bertanya kepada anak lak-laki itu (santriwan): "Bagaimana jika kamu saya uji,jika lulus ujian kamu boleh meningalkan pondok pesantren ini"?Santiwan itu menjawab: "Saya siap Pak Kyai".Sekarang kamu pergi Kekamar saya, kata Pak Kyai.Kemudian Pak Kyai bertanya kepada santriwati: "Bagaimana jika kamu saya uji,jika lulus dari ujian kamu boleh meninggalkan pondok pesantren ini"?.Santriwati itu menjawab: "Saya siap Pak Kyai".Kalau begitu pergilah ke kamar saya,kata Pak Kyai.Sesudah santriwan dan santriwati ada di kamar,Pak Kyai mengintruksikan: "Tinggalah kalian berdua di kamar saya,jangan keluar sebelum saya datang,sekarang matikan lampu,buka baju kalian berdua,dan tutup pintu".Santiwan dan santriwati itu menjawab: "Kami siap Pak Kyai".Rupanya saking lamanya duduk di dalam kamar,santiwan dan santriwati itu sama-sama bermaksud menggerakan badan dan juga tangan,tiba-tiba tanpa di sadari,ketika mengerakan tangan santriwan itu menyentuh kemaluan santriwati,sakiii…iiing kagetnya santriwati berteriak: "Nerakaaaaaa……"!!!.

Karena tubuh dan tangan santriwati gemetar terus-terusan,tiba-tiba tanpa dia sadari menyentuh kemaluan santriwan,sakiii…iiing kagetnya santriwan berteriak juga: "Setannnnnn……"!!!.Akhirnya tubuh dan tangan santiwan dan juga santriwati gemetar terus-terusan,dan keduanya mencoba untuk saling menenangkan diri,setelah merasa sudah tenang,santiwan bertanya: "Setan itu kan musuh kita semua"?Santriwati menjawab: "Iya mas".Sekarang santriwati yang balik bertanya: "Mas bukankah Neraka itu tempat orang-orang yang berdosa"?Santriwan menjawab: "Iya mbak".Oh iya,bagaimana mbak jika kita berjihad fie sabilillah?maksudnya,kata santriwati bertanya penasaran.Begini mbak tadi pas mbak megang kemaluan saya,saya bilang setan.dan pas saya megang kemaluan mbak,mbak bilang Neraka,bukan begitu"?Santiwati menjawab: "Iya mas…Terus sekarang bagaimana?kata santriwati itu".Ya Sudah Kita berdua jihad fie sabilillah…."Sekarang juga kita masukan Setan ke dalam Neraka,siap mas kata santriwati menjawab dengan semangat".Besoknya Pak Kyai datang terus memanggil keduanya,sesudah keduanya memakai baju,Pak Kyai bertanya kepada keduanya,apa yang kalian lakukan di dalam kamar saya: "Saya tidak berbuat apa-apa,kecuali saya berjihad fie sabilillah,apa itu kata Pak Kyai?Santriwan menjawab: "Begini Pak Kyai tadi malam si mbak bilang kemaluannya itu Neraka,sedangkan kemaluan punya saya Setan,jadi oleh saya setan itu di masukan kedalam Neraka".Innalillahi wa inna illaihi raajiuun..…kata Pak Kyai langsung pingsan.
Selanjutnya - INTERMEZZO EUY: PESANTREN SETAN VS NERAKA

INTROSPEKSI DIRI

نحن نقص عليك أحسن القصص
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik (Qs.Yusuf:3)
Manusia yang mengerti akan tugas hidup di dunia akan selalu mengambil pelajaran dari apa yang telah ia perbuat pada masa lalunya. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata pepatah. Kalau kita mau bercermin pada pengalaman, maka kita mempunyai modal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan prestasi. Prestasi bukan hanya sebatas keberhasilan yang didapat, tetapi prestasi adalah keberhasilan dalam menjalankan misi ibadah yang dilakukan secara kontinuitas. Dalam hadits dikatakan bahwa tidak sepantasnya seorang muslim terperosok ke jurang yang kedua kalinya. Dalam arti bahwa hidup itu harus hati-hati. Jika kita mempunyai pengalaman menjadi orang miskin dan sekarang menjadi orang yang mempunyai kecukupan harta, maka berempatilah terhadap sesama.

Keberhasilan hidup akan mudah diraih jika kita selalu mengerti dan memahami siapakah diri kita sebenarnya. Semua manusia sama dihadapan Allah, hanya nasib yang membedakan kita. Oleh karena itu, jadiakan ketakwaan sebagai prioritas utama dalam segala hal. Dalam hal ini ada suatu kisah yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: "Ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: "orang kusta,orang botak,dan orang buta." Allah ingin menguji mereka. Maka diutuslah kepada mereka seorang Malaikat, lalu Malaikat itu mendatangi orang yang berpenyakit kusta. Malaikat itu bertanya: "Apa yang paling kamu sukai?" Dia menjawab: "Warna kulit yang baik, dan hilang dariku yang telah membuat orang-orang menjauh dariku." Maka Malaikat itu mengusapnya sehingga kotorannya hilang, dan diberinya warna kulit yang baik. Lalu Malaikat itu bertanya lagi, harta apa yang paling kamu sukai? Dia menjawab: "Unta" Maka diberinya unta betina yang banyak air susunya. Lalu Malaikat itu berkata: "Semoga Allah memberkahi dengan unta ini."

Lalu Malaikat itu mendatangi orang yang botak, Malaikat itu bertanya kepadanya: "Apa yang paling kamu sukai? Dia mnjawab: "Rambut yang bagus,dan hilang dariku yang telah membuat orang-orang menjauh dariku. Malaikat itu mengusapnya,maka hilang kebotakan itu darinya, dan diberinya dia rambut yang bagus. Lalu Malaikat itu bertanya lagi: "Harta apa yang paling kamu sukai?Dia menjawab: "Sapi" Maka diberinya dia sapi yang hamil, lalu Malaikat itu berkata: "Semoga Allah memberkati dengan sapi betina ini." Kemudian Malaikat itu mendatangi orang yang buta, Malaikat itu bertanya: "Apa yang paling kamu sukai? Orang buta itu menjawab: "Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku sehingga kau dapat melihat manusia. Lalu Malikat itu mengusapnya. Maka penglihatannya pun kembali pulih kepadanya. kemudian Malaikat itu bertanya lagi, harta apa yang paling kamu sukai? Dia menjawab: "Domba" Maka diberinya dia seekor domba beranak." Rasulullah SAW bersabda: "Lalu orang yang tadinya berpenyakit kusta itu memiliki unta yang memenuhi lembah, orang yang tadinya botak itu memiliki sapi yang memenuhi lembah, dan orang yang tadinya buta itu memiliki domba yang memenuhi lembah." Rasulullah SAW bersabda: "Lalu Malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dengan penampilan dan rupa orang yang berpenyakit kusta, dia berkata: "Aku adalah orang miskin yang telah kehabisan bekal dalam perjalananku ini, maka aku tidak akan bertahan hidup hari ini kecuali dengan bantuanmu. Aku minta kepadamu dengan yang telah memberikan kamu warna kulit yang baik dan harta,seekor unta agar aku sampai tujuan? Maka dia menjawab: "Aku mempunyai kewajiban yang banyak sekali". Maka Malaikat yang menjelma dalam rupa orang miskin tadi berkata kepadanya: "Sepertinya aku mengenalmu, bukankah kamu itu orang yang tadinya punya penyakit kusta, orang-orang menjauhimu karena jijik, fakir, lalu Allah memberimu kekayaan? Dia menjawab: "Sebenarnya harta ini warisan dari nenek moyangku secara turun temurun. Maka laki-laki miskin itu (Malaikat) berkata lagi: "Apabila kamu bohong, maka Allah akan menjadikanmu seperti keadaan yang semula".

Kemudian Malaikat itu mendatangi orang yang tadinya botak itu dengan penampilan orang botak, lalu dia mengatakan hal yang sama dengan yang ia katakan kepada orang yang tadinya berpenyakit kusta. Orang yang tadinya berpenyakit botak menolaknya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang tadinya berpenyakit kusta. Maka Malaikat itu berkata: "Apabila kamu bohong, maka Allah akan menjadikanmu seperti yang semula.

Lalu Malaikat itu mendatangi orang yang tadinya buta dengan penampilan orang buta, ia berkata: "Aku adalah orang miskin yang sedang mengadakan perjalanan, bekal perjalananku telah habis, dan aku tidak bertahan hidup hari ini kecuali dengan bantuan Allah dan juga bantuan kamu". Aku memohon kepadamu dengan yang telah mengembalikan penglihatanmu, untuk memberikan seekor domba biar aku bisa samapai tujuan. Maka yang tadinya buta itu itu menjawab: "Aku tadinya adalah orang yang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku, maka ambilah sesukamu. Demi Allah, tidakkah aku memberimu sesuatu yang aku ambil hari ini kecuali karena Allah". Maka Malaikat (yang menjelma jadi rupa orang yang buta itu) berkata: "Peganglah hartamu karena yang tadi hanyalah ujian bagi kalian." Allah telah meridhaimu, dan Dia telah murka kepada kedua kawanmu (orang yang tadinya berpenyakit kusta dan orang yang tadinya botak). [HR. Muslim no. 2964].

Allah akan menguji kita dengan kebaikan dan kejelekan, supaya diketahui siapa yang paling baik amalnya. "Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja mengatakan, kami telah beriman padahal mereka belum diuji dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum kamu, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang yang dusta." (Qs.Al-Qashash: 2-3).

Apa pun yang kita miliki, semuanya hanyalah titipan dari Allah. Tidak ada hari tanpa selalu mengerjakan yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan juga masyarakat itu merupakan cermin pribadi yang sukses. Sukses tidak hanya indentik dengan materi, tetapi kesuksesan seseorang bisa dilihat bagaimana ia bisa mempersiapkan amal saleh untuk bekal di hari akhirat. Dengan memperhatikan aktivitas kita sehari-hari dan dibarengi dengan evaluasi diri, insya Allah kita akan menjadi muslim yang senantiasa memberikan manfaat kepada orang lain. "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan banyak manfaat kepada sesamanya." [HR.Bukhari].

Selanjutnya - INTROSPEKSI DIRI