Kamis, 11 Februari 2010

JANGAN MAU DI EKSPLOITASI OLEH KAUM ADAM

Krisis keuangan akhirnya mengharuskan para ibu rumah tangga perlu memiliki kemampuan berhitung lebih cermat. Bekerja di luar rumah sering bukanlah solusi yang tepat, apalagi jika memiliki anak balita.

Islam menetapkan tanggung jawab utama wanita yang telah berumah tangga adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Perawatan, pengasuhan, pendidikan anak usia dini adalah hal yang dikorbankan ketika ibu keluar rumah untuk bekerja. Belum lagi urusan pengaturan rumah tangga yang masih menjadi tanggung jawabnya 

Untuk itu, hal yang pertama kali dilakukan ketika krisis keuangan melanda rumah tangga adalah menetapkan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi prioritas. Dalam konsepsi islam,tentang hak dan kewajiban wanita yang dapat ditinjau dari segala aspek yang dapat disimpulkan dalam dua bagian:

1) Aspek Ibadah

Adalah hubungan manusia dengan Penciptanya, tanggung jawab ini merupakan tanggung jawab sendiri/ individual yang tidak dapat siapapun untuk ikut campur tangan dalam hal ini.

Dalam aspek ini, tidaklah ada perbedaan antara laki-laki dan wanita kecuali dalam beberapa hal kecil yang berbeda yang diakibatkan oleh perbedaan dalam penciptaan, bentuk dan fitrah, karena wanita merupakan manusia mukalaf layaknya seorang laki-laki. Dan betanggung jawab sebagaimana layaknya laki-laki

Sebagaimana diterangkan dalam Firman Allah SWT surat Ghafer ayat 40:

من عمل صالحا من ذكر او انثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة يرزقون فيها بغير حساب

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan dari laki-laki maupun wanita dan mereka sedang dalam keadaan beriman kepada Allah SWT merekan akan masuk surga dan mendapat reziqi didalamnya yang tidak terhitung.

Al-Zalzalah ayat 7-8

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره

ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره

Artinya: Barangsiapa mengerjakan kebaikan walau sekecil zarrah (atom) ia akan melihat kebaikan

Dan kata (من) dalam bahasa Arab adalah Isim Mausul menerangkan bahwa yang ditujukan adalah laki-laki dan wanita.

2) Aspek Muamalat dan hubungan sosial.

Hubungan manusia biasanya berkembang mengikuti keadaan dalam lingkungan serta hubungan mereka masing-masing dengan lingkungannya apakah hubungan individu maupun hubungan umum.Disinilah tanggung jawab seorang wanita dapat diukur sesuai dengan besar kecilnya lingkaran pergaulannya, bilamana lingkungan ini membesar maka tanggung jawab akan besar pula dan jika lingkaran itu mengecil maka akan kecil pula tanggung jawab, dimana tanggung jawab tersebut berkaitan erat dengan hak dan kewajiban.

Istri mempunyai peran sangat besar terhadap keluarga. Banyak pekerjaan istri yang sebagian besar suami tidak bisa melakukannya, dan ada satu tugas istri yang tidak bisa dilakukan suami, yaitu melahirkan keturunan. Karena itu, kalau ada suami yang tegah, dan sengaja memaksa istrinya bekerja, secara tidak langsung telah mengeksploitasi istrinya. Wanita itu harus tau, kalo Allah itu meninggikan Laki-laki satu derajat lebih tinggi dibandingkan Wanita.

QS An-Nisa : 34

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

[289]. Maksudnya: Tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290]. Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291]. Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan 
           rumah tanpa izin suaminya.
[292]. Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah 
          mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, 
         bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak 
         meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan 
         seterusnya.

Dalam pandangan Islam, suami istri memiliki perannya masing-masing. Seorang suami bertugas sebagai pencari nafkah sedang istri sebagai pengatur rumah tangga. Keduanya saling melengkapi bukan saling menyaingi. Dengan adanya pembagian peran itu, anak-anak tercukupi kebutuhannya baik materi (nafkah dari kedua orang tuanya khususnya dari laki-laki) maupun non materi/psikologi (kasih sayang dari orang tuanya khususnya dari perempuan). Hal inilah yang akan menjadikan anak merasakan hadirnya kedua orang tuanya dalam hati yang nantinya akan memunculkan sifat bakti pada mereka hingga mereka tua renta sekalipun.

Islam dan Jaminan Sosial.
Dalam Islam, jaminan sosial secara sistematis telah tetap. Bagi laki-laki diwajibkan mencari nafkah. Jika mereka tidak mampu karena modal dan softskill maka Negara akan menyediakan modal dan pengajaran untuk softskillnya. Lapangan kerjapun dibuka lebar-lebar oleh pemerintah agar tidak ada alasan bagi laki-laki untuk menganggur padahal ia mampu. Nafkah yang didapat dari laki-laki itu akan diberikan pada keluarganya yang menjadi tanggungannya. Jika laki-laki itu lemah tenaganya atau tak sanggup lagi bekerja karena sudah tua renta maka yang wajib menafkahi ia dan keluarganya adalah ahli warisnya dan kerabatnya yang terdekat. Jika ahli warisnya tidak sanggup menafkahi mereka atau mati maka beban nafkah akan ditanggung oleh Negara dari pemasukan zakat. Jika Negara tidak sanggup maka hal itu akan dibebankan pada kaum muslimin yang kaya.

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)  (Q.s Al Ma’arij 24-25)

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin..” (At Taubah 60)

Jadi,kembali kepada masalah manita yang menjadi tulang punggung keluarga dalam arti yang menafkahi keluara,dalam konteks ini wanita tidak wajib menafkahi keluarga,yang mempunyai tanggungan sebagai yang menafkahi keluarganya tetap suami sesuai dengan firmn Allah:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)
Selanjutnya - JANGAN MAU DI EKSPLOITASI OLEH KAUM ADAM

Rabu, 14 Oktober 2009

KEBEBASAN DALAM HIDUP

"Beribadahlah kepada Tuhanmu,hingga datang kepadamu keyakinan"(Qs.Al-Hijr:99)

Para ahli tafsir sepakat bahwa "keyakinan" dalam ayat ini mengandung arti: "saat kematiaan".
Hidup ini memang indah.Allah memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih yang terbaik buat kita.Manusia yang berpikir yang menggunakan akal pikirannya akan senantiasa mempertimbangkan baik dan buruk suatu masalah. Allah menyuruh memilih diantara dua pilihan antara beriman dan kafir.Dalam firmannya: "Maka barang siapa yang mau beriman berimanlah,dan barangsiapa yang mau kafir silahkan kafir".Jadi hidup itu banyak pilihan.tapi,tentunya pilihan itu harus yang bisa membawa diri kita kepada kebaikan.Kebaikan harus dibarengi dengan keikhlasan yang tidak ada kemusyrikan dan sifat ria yaitu ingin mendapatkan pujian manusia.Nah,perlunya memahami kebebasan itu sendiri. Menurut Syeik Daqqaq :"Kebebasan berarti bahwa si hamba, bebas dari belenggu sesama makhluk, kekuasaan makhluk tidak berlalu untuk dirinya.Tanda absahnya kebebasan adalah,bahwa tersingkirnya pembedaan tentang segala hal dalam hatinya, sehingga semua gejala duniawi sama di hadapannya".Hakikat kebebasan itu sebenarnya pada tingkat ubudiyah, sebab jika ubudiyahnya benar, maka kebebasan dari belenggu akan sempurna.Jadi kalau kita berbicara tentang kebebasan, kita harus merasakan bebasnya diri dari perbudakan dari sesama makhluk, jangan mau di dikte sama orang lain,kita hanya miliki Allah dialah yang layak bagi kita.Tidak ada yang bisa memperbudak kita, mengatur-ngatur kita, baik perkara duniawi yang bersifat sementara,pencarian kepuasan hawa nafsu,keinginan ataupun kebutuhan.

dalam hal ini patut kita renungkan ketika Asy-Sibly di tanya: "Tidak tahukah Anda bahwa Allah Maha penyayang?" Beliau menjawab: "Tentu. Tapi, kerena aku telah tahu bahwa Dia Maha Penyayang, maka aku tidak pernah meminta kepada-Nya agar menyayangiku.Dan maqam kebebasan sunggulah mulia".
Ketika berhadapan dengan manusia,biasalah bersikap wajar,tidak harus takut,lihatlah manusia itu sebagai manusia yang sama keadaannya seperti kita, hanya status, nasib dan ketakwaannya yang berbeda.
Selanjutnya - KEBEBASAN DALAM HIDUP

Senin, 12 Oktober 2009

SANG ISTRI YANG PENGERTIAN

"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholehah" (HR.Muslim)
wanita yang sholehah adalah wanita yang selalu berusaha secara terus-menerus untuk berbuat baik.Dalam memilih istri perlu selektif, jangan sampai kita tertipu dengan kecantikan luarnya. Kecantikan memang penting tapi bukan segala-galanya, masih banyak faktor lain yang akan mempercantik dirinya. Kalau kita lihat dalam konsep Islam yang menjelaskan tentang beberapa faktor yang harus di perhatiakan, yaitu: kekayaan, kecantikan, keturunan, dan agamanya.Nah, dalam pernikahan yang perlu di prioritaskan adalah faktor agamanya. Karena kalau yang mengerti akan agamanya, dia akan tahu cara menempatkan dirinya.

Sebetulnya dalam konteks pernikahan itu,yang di maksud "karena agamanya" yakni memilih wanita yang cerdas dalam bersikap dan mudah diarahkan kedalam kebaikan.Kekayaan yang dimaksud bukan hanya kekayaan harta benda semata,tetapi kekayaan hati nurani.Sesuai dengan hadits Nabi: "Bukankah orang yang disebut kaya itu yang banyak harta benda? Tetapi kaya dalam pandangan Islam adalah kaya hati nurani". Kecantikan bukan hanya penampilan fisik semata, tetapi kecantikan akhlak budi pekerti itulah yang penting, sehingga aura kecantikan akan selalu kelihatan dan ekspresi dirinya (inner beauty). Keturunan bukan hanya keturunan bangsawan semata, tetapi keturunan yang di maksud adalah keturunan keluarga baik-baik dan terhormat.Sungguh bahagia orang yang mempunyai istri yang baik yang cerdas, punya kepribadian mempesona, punya cinta kasih yang tulus, mencintai suaminya karena mengharapka ridhonya, dia yakin akan kebenaran ajaran agamanya bahwa pengabdiaan terhadap suaminya adalah jalan menuju surga yang Allah janjikan kepada umatnya yang taat kepada-Nya.

Istri yang sholehah sangat penyayang, dia mencintai suaminya tanpa memandang dirinya sebagai apa atau memandang dirinya karena apa.Cintanya pun lahir tanpa di barengi dengan pemaksaan pada kehendak masing-masing.Sungguh luar biasa kekuatan imannya, dia selalu berusaha tuk membahagiakan suaminya.Cinta yang tulusnya pun tumbuh dengan batas-batas penghargaan bagi masing-masing.Pandai mensikapi suami, selalu memotivasinya, memperlihatkan wajah yang ceria ketika berhadapan dengan suami kecuali kalau suaminya lagi dalam keadaan kesuliatan. Dia pandai menghibur ketika suami lagi keadaan gelisah.
Perbedaan yang ada selalu di bikin indah dan menyengkan ketimbang menjadi suatu yang di perdebatkan.Dia percaya bahwa perbedaan itu suatu keniscayaan, tetapi yang tidak di perbolehkan adalah bercerai- berai dan pertengkaran. Saling pengertian akan perbedaan tidak akan tercipta.Jika perbedaan yang ada belum bisa di terima sewajarnya.Kalau masalah ini di pahami bersama oleh kedua belah pihak, keinginan untuk menjalin hubungan yang harmonis akan mudah untuk diwujudkan.
Selanjutnya - SANG ISTRI YANG PENGERTIAN

Minggu, 04 Oktober 2009

JANGAN SAKITI AKU

"Kamu tidak akan masuk ke surga, hingga kamu beriman. Kamu tidak akan beriman dengan secara sempurna, hingga kamu saling mencintai. Maukah kamu kutunjukan sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai?. Biasakan mengucapkan salam di antara kamu apabila bertemu". (HR. Muslim)

Kehidupan memang banyak pilihan,berani hidup harus berani memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Dalam menentukan pilihan itu tentunya kita harus melihat konsekwensi yang akan di terima, besar kecilnya masalah tergantung cara kita mensikapinya. Dalam hal ini patut kita renungkan bersama konteks hadits di atas, tentang pribadi yang selalu menebar cinta kasih terhadap sesama. Salah satu yang ditawarkan dalam Islam adalah mengucapkan salam, yang berati mensosialisasikan dan mengamalkan sifat kesejahteraan, kedamaian, keselamatan, dan keharmonisan. Kalau kita aplikasikan dalam kehidupan kita secara benar arti kedamaian, mana mungkin akan ada orang yang menyakiti saudaranya. Karena seorang muslim yang bener percaya bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berkasih sayang. Tidak akan ada seorang pun yang hidupnya ingin di sakiti. Kalau ada seorang muslim yang hidupnya disakiti orang lain, maka bertawakal-lah kepada Allah. Artinya serahkanlah masalah itu kepada Allah, hanya Allah-lah yang membalasnya setimpal dengan kesalahannya. Do'a orang yang tersakiti atau di zalimi sungguh di dengar dan kabukan oleh Allah. Dalam hadits di sinyalir: "Tiga doa yang tidak ada keraguan padanya, pasti dikabulkan oleh Allah, pertama doa orang tua pada anaknya. Kedua, doa orang yang sedang bepergian (musafir). Ketiga, doa orang yang disakiti atau dizalimi".

Dalam Konteks Suami-Istri
Harapan yang berkeluarga pasti menginginkan kehidupan penuh cinta kasih dan selalu harmonis. nah, tentunya ini perlu saling memahami diri masing-masing, jangan banyak menuntut kepada pasangan untuk di mengerti, tapi berusahalah secara bersama-sama untuk saling memahami, mengerti dan memberikan kepercayaan kepada masing-masing tanpa ada kecurigaan didalamnya. Jauhilah prasangka jelek kepadanya, janganlah meggekang dan mendominasi tehadap pasangan. Biarkanlah pasangan kita mengekspresikan dirinya, tapi tentunya dalam batas-batas atau koridor yang wajar, tidak menyalahi aturan agama.

Kesuksesan keluarga biasanya ditunjang dari beberapa hal, diantaranya memberikan kepercayaan, saling keterbukaan, mengungkapkan masalah yang ada, sehingga masalah yang ada dapat di ketahui dan di mengerti oleh kedua belah pihak. Masalah yang ada semestinya disikapi dengan kepala dingin tanpa mengedepankan emosi. Kalau ada masalah yang timbul, cari akar masalahnya yang bisa membuat suasana tenang dan kondusif, tentunya harus di dialogkan bersama, baik jeleknya keluarga tergantung cara sikap suami dan istri dalam mengelola masalah keluarganya. Kesuksesan sebuah keluarga tegantung kecerdasan dalam mensikapi masalah. Suksesnya istri manakala dia pandai mensikapi dan memahami karakter suaminya, begitu juga suksesnya suami tergantung cara dia dalam mengayomi dan memahami perasaan istri sehingga sang istri akan selalu memuliakan suaminya. Indah bukan?

Buat Suami-Istri Supaya "Tahu dan di Mengerti"
dalam literatur kitab klasik diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Umair Al-Qurasy. Dia hidup pada abad ke-2H, seorang yang luas ilmunya dan pengetahuannya. Dia meriwayatkan dari Umamah binti Harits, seorang wanita yang kesohor memiliki kefasihan lisan, kehalusan bahasa, ketajaman berfikir dan kematangan intelektual. Dimana ia memberikan nasehat kepada putrinya, ketika telah berada diambang pintu pernikahan. Melalui untaian kata-kata yang sangat indah, yang layak di tulis dengan tinta emas.

Dari Abdul Malik bin Umair berkata: "Sewaktu Auf bin Muhallim Asy-Syaibani, salah seorang tokoh arab terpandang akan menikahkan putrinya Ummu Iyas denga Harits bin Amr Al-Kindi, setelah mempelai putri dihias dan di make up untuk diantarkan kecalon suaminya. Lalu ibunya, Umamah binti Harits menemuinya seraya berwasiat:
"Wahai putriku, seandainya suatu wasiat diabaikan karena memandang bahwa seseorang telah beradab atau karena seseorang telah berketurunan mulia niscaya engkau lebih utama untuk tidak diwasiatkan. Pesan ini di angkat sebagai peringatan bagi orang lalai, dan sebagai bahan renungan bagi orang yang berfikir".

"Wahai putriku, sekiranya wanita tidak membutuhkan suaminya lantaran kekayaan orang tuanya dan ketergantungan kepada orang tuanya, niscaya engkau adalah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa wanita diciptakan untuk laki-laki, begitupun sebaliknya, laki-laki diciptakan untuk wanita".

"Wahai putriku, beberapa saat lagi engkau akan meninggalkan tempat kelahiranmu, dan kampung halamanmu, menuju kenegeri yang asing bagimu. Untuk mendampingi temen hidup yang engkau belum mengenal sebelumnya. Kemudian engkau akan menjadi miliknya dan dia akan menjadi raja bagimu. Mengabdilah engkau kepadanya seperti pengabdian seorang budak, niscaya dia akan menjadi hamba sahaya bagimu".

"Wahai putriku, ambilah dariku sepuluh perkara, yang kan menjadi bekal dan peringatan bagimu:
Pertama dan kedua: "Dampingilah suamimu dengan penuh rasa puas, dan bekali dirimu dengan banyak mendengar dan mentaatinya. Karena sesunggunya dalam kepuasan ada ketenangan, sedangkan dengan banyak mendengar dan taat, akan mendatangkan keridhaan Tuhan".

Ketiga dan keempat: "Kuatkan kepekaanmu pada penciumannya dan cermatilah pandangan matanya. Sehingga tidak melihat keburukan sedikitpun padamu, dan ia tidak mencium darimu, melainkan bau wangi yang paling harum. Sesungguhnya celak merupakan sesuatu yang paling baik dari apa yang ada, sedangkan minyak kasturi adalah cairan yang paling harum semerbak, yang di dambakan oleh setiap orang".

Kelima dan keenam: "Perhatikan waktu-waktu makannya, dan tenagkanlah waktu tidurnya, karena sesungguhnya perihnya rasa lapar menjadi nafsu bergejolak dan ketidak nyamanan sewaktu tidur dapat mengundang amarahnya".

Ketujuh dan kedelapan: "Jalinkan dan sambunglah hubungan baik dengan kerabat dan keluarganya dan jagalah harta kekayaannya. Karena menjaga hartanya sebagai bukti penghargaan atas jerih payahnya. Sedangkan menjalin hubungan baik dengan kerabat dan keluarganya, termasuk mengurus suami yang paling baik".

Kesembilan dan kesepuluh: "Janganlah engkau buka rahasianya dan jangan engkau durhakai perintahnya. Karena jika engkau buka rahasianya, maka engkau tidak akan selamat dari penghianatannya. Dan jika engkau durhakai perintahnya, maka berarti engkau telah mendidihkan amarahnya dalam dadanya".

Selanjutnya wahai putriku....janganlah engkau menampakan kegembiraan, pada saat ia sedang di rundung duka, dan janganlah engkau bermuram durja saat ia sedang bahagia. Karena yang pertama merupakan kelalian, sedangkan yang kedua dapat mengerohkan suasana hatinya".
"Jadilah engkau orang yang sangat menggangungkan dirinya, maka ia akan menjadi orang yang memuliakan dirimu. dan jadilah engkau yang paling mendukungnya, niscaya engkau akan langgeng bersamanya".

Ketahuilah wahai putriku....engkau tidak akan pernah sampai pada apa yang engakau sukai darinya, hingga engkau dahulukan keinginannya dari pada keinginanmu, dan kehendaknya di atas kehendakmu, terhadap segala hal yang engkau sukai dan engkau benci. Semoga Allah menganugrahkan kebaikan kepadamu dan senantiasa menjagamu".

Kalau kita perhatiakan nasehat itu begitu luar biasa, sehingga menyentuh hati orang-orang yang punya keinginan membentuk keluarga yang harmonis yang selalu mengharap ridhoi-Nya.
sekarang kembali kepada diri kita masing-masing dalam masalah ini. Ketika punya komitmen dalam pernikahan, maka persiapkan ilmu yang memadai dan mental yang handal. Semoga apa yang kita harapkan bisa terwujud dan mendapatkan ketenagan dalam keluarga.







Selanjutnya - JANGAN SAKITI AKU

Senin, 28 September 2009

WANITA YANG PROGRESIF

"Sesungguhnya Aku ciptakan kalian dari golongan laki-laki dan perempuan" (Qs.Al-Hujurat:13)
Ketika kita melihat penggekangan yang di lakukan oleh kaum laki-laki terhadap kaum wanita, sungguh menyedihkan, apa yang salah dengan wanita, penulis pernah membaca suatu kisah yang sangat tragis, ketika seorang wanita di pasung oleh suaminya dengan alasan memalukan keluarga,wanita yang di pasung itu tiap hari selalu mengulangi kata-kata, "laki-laki memang egois dan tidak mengerti akan perasaan wanita". Ini menjadikan renungan bagi kita,tidak setiap laki-laki egois,banyak laki-laki yang memahami dan mengerti akan perasaan wanita,dan tidak sedikit yang menjadi pejuang hak-hak wanita.

Sebetulnya dalam konteks ayat diatas mengisyaratkan persamaan antara lelaki dan wanita. Perbedaan laki-laki dan wanita hanyalah bersifat biologis.
kalau dulu wanita sering di jadikan objek,sehingga sekolah tidak boleh tinggi,dengan alasan ujung-ujungnya kedapur juga. sekarang wanita banyak yang mengerti dan memahami tentang peran dia sebagai hamba Tuhan yang di berikan kelebihan sama seperti laki-laki.

Wanita dan Kepemimpinan
"Laki-laki adalah pelindung bagi kaum wanita".(Qs.An-Nisaa:34)
ayat ini dalam konteks keluarga, lelaki bertanggung jawab atas fisik dan keselamatan wanita, dan lelaki layak menjadi pemimpin keluarga.
Adapun dalam masalah institusional/kelembagaan wanita boleh berperan aktif dalam segala bidang asal punya kapasitas dan kompetensi dalam hal mengatur dan mengarahkan sesuai dengan ilmu dan skill yang dimilikinya. Berkaitan dengan peran wanita yang biasa di jadikan dalil bagi orang yang menentang kepemimpinan wanita atau orang-orang yang tidak setuju terhadap wanita yang aktif di lembaga-lembaga pemerintahan. Dengan alasan hadits: "Tidak akan sukses sebuah kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada wanita". nah, hadist ini perlu kita analisa dan di pahami dari segi historis supaya mendapatkan informasi yang memadai mengenai latar belakang kejadiaanya (asbabul wurud). Sebenarnya jauh sebelum hadits itu muncul, yakni pada masa dakwah Islam yang dilakukan oleh Nabi ke beberapa daerah dan negeri. Pada saat itu Nabi muhammad SAW pernah mengirim surat kepada pembesar negeri lain dengan maksud mengajak mereka untuk memeluk Islam. Di antara pembesar yang dikirim surat oleh Nabi adalah Raja Kisra di Persia. Kisah pengiriman surat tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

Rasulullah mengutus surat tersebut kepada pembesar Bahrain. Setelah tugas dilakukan sesuai dengan pesan dan di terima oleh pembesar Bahrain, kemudian pembesar Bahrain tersebut memberikan surat kepada Raja Kisra. Setelah membaca surat dari Nabi SAW, Raja Kisra menolak bahkan merobek-robek surat dari Nabi tersebut. Menurut riwayat, setelah peristiwa tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah bersabda: "Siapa yang sudah merobek-robek surat dari saya, akan di robek-robek(diri dan kerajaan) orang itu". (Fath Bari, hal.127-128).
Tidak lama kemudian, kerajaan Persia dilanda kekacauan dan berbagai pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga dekat Raja. Hingga setelah terjadi bunuh-membunuh dalam rangka suksesi kepemimpinan, diangkatlah seorang perempuan yang bernama "Buwaran binti Syairawaih bin Kisra (cucu Kisra yang pernah dikirin surat oleh Nabi) sebagai ratu (Kisra) di Persia. Hal itu, karena ayah Bahrawan meninggal dunia dan anak lak-lakinya (saudara Bahrawan) telah mati terbunuh. Karenanya, Buwaran kemudian dinobatkan menjadi ratu. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 9 H.

Nah, selain itu kita lihat dari sisi sejarah sosialnya bangsa tersebut, bahwa menurut tradisi atau adat istiadat masyarakat yang berlangsung di Persia masa itu. Jabatan kepala negara (Raja) biasanya di pegang oleh kaum laki-laki. Sedangkan yang terjadi tahun 9H. tersebut menyalahi tradisi itu. Sebab yang di angkat sebagai Raja adalah perempuan. Masalahnya pada waktu itu, derajat kaum perempuan di mata masyarakata berada di bawah derajat kaum laki-laki. Perempuan sama sekali tidak dipercaya dan di tidak di perkenankan mengurus kepentingan masyarakat umum (publik), terlebih dalam maslah kenegaraan. Keadaan seperti itu tidak hanya terjadi di persia saja, tetapi juga di seluruh Jazirah Arab. Dalam kondisi kerajaan Persia dan keadaan sosial seperti itu, wajar Nabi Muhammad SAW yang memiliki kearifan tinggi, melontarkan hadits bahwa: "Bahwa bangsa yang menyerahkan masalah-masalah (kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan tidak akan sukses atau sejahtera".
Bagaimana mungkin akan sukses jika orang yang memimpin itu adalah orang yang sama sekali tidak di hargai oleh masyarakat yang dipimpinnya. Salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah memiliki karishmatik atau kewibawaan, sedangkan pada saat itu perempuan sama sekali tidak memiliki kewibawaan untuk menjadi pemimpin. Andaikata seorang perempuan telah memiliki kwalifikasi dan sangat di hormati oleh masyarakat, sangat mungkin sekali Nabi yang sangat bijaksana akan menyatakan kebolehan kepemimpinan politik kepada perempuan.
Selanjutnya - WANITA YANG PROGRESIF